Inflasi Riau Januari 2026 Tembus 4,43 Persen, Tembilahan Tertinggi

Senin, 02 Februari 2026 | 17:57:36 WIB
Ilustrasi

PEKANBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Januari 2026 sebesar 4,43 persen. Inflasi tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di angka 111,70.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Riau, Fitri Hariyanti, Senin (2/2/2026), menjelaskan inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Tembilahan dengan angka mencapai 6,38 persen dan IHK sebesar 112,18. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kampar sebesar 3,70 persen dengan IHK 112,54.

"Secara umum, inflasi tahunan di Riau dipicu oleh kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan inflasi sebesar 17,97 persen. Disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 12,14 persen, serta kelompok pendidikan sebesar 5,05 persen," jelasnya.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,95 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,57 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 2,27 persen, kelompok kesehatan sebesar 1,19 persen, serta kelompok transportasi sebesar 0,67 persen.

Di sisi lain, tiga kelompok pengeluaran mengalami deflasi secara tahunan, yakni kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,11 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,41 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-to-m), Provinsi Riau justru mengalami deflasi sebesar 0,45 persen pada Januari 2026. Angka deflasi yang sama juga tercatat secara kumulatif sejak awal tahun (year to date/y-to-d) sebesar 0,45 persen.

Fitri menjelaskan, perkembangan harga berbagai komoditas sepanjang Januari 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan pemantauan BPS di empat kabupaten/kota, IHK Riau naik dari 106,96 pada Januari 2025 menjadi 111,70 pada Januari 2026.

"Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, biaya pendidikan akademi dan perguruan tinggi, ikan serai, ayam hidup, beras, sepeda motor, ikan tongkol, sigaret kretek mesin (SKM), sewa rumah, nasi dengan lauk, cabai rawit, telur ayam ras, jeruk, bawang merah, bayam, bakso siap santap, sigaret kretek tangan (SKT), ikan kembung, ketupat lontong sayur, serta sawi putih," jelasnya.

Sebaliknya, sejumlah komoditas memberikan andil deflasi secara tahunan, di antaranya cabai merah, kentang, jengkol, bawang putih, sabun detergen bubuk, tarif parkir, sabun cair atau cuci piring, bensin, ikan baung, masker, angkutan udara, gula pasir, makanan hewan peliharaan, petai, minyak goreng, terong, susu bubuk balita, pengharum cucian, dan buah naga.

Untuk deflasi m-to-m, komoditas yang dominan antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, angkutan udara, telur ayam ras, bensin, cabai hijau, dan kelapa.

Sedangkan komoditas yang mendorong inflasi bulanan meliputi emas perhiasan, ayam hidup, sepeda motor, tomat, bayam, sawi putih, daging ayam ras, kangkung, serta ikan nila.

Dari sisi kontribusi kelompok pengeluaran, inflasi y-on-y terbesar disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,45 persen.

Selanjutnya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 1,30 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,99 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,26 persen.

Kelompok pendidikan memberikan andil inflasi sebesar 0,23 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,14 persen, kelompok transportasi 0,09 persen, dan kelompok kesehatan 0,03 persen. Sementara kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga memberikan andil deflasi sebesar 0,05 persen, diikuti kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,01 persen.

"Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat tidak memberikan andil inflasi maupun deflasi yang signifikan," pungkasnya.

Terkini