Api Kecil, Bencana Besar—Babinsa Kuala Sebatu Mengunci Musim Kemarau dari Karhutla

Selasa, 10 Februari 2026 | 12:34:11 WIB

Batang Tuaka - Di bawah terik matahari yang seolah membakar ubun-ubun, Babinsa Koramil 12/Batang Tuaka Kodim 0314/Inhil, Sertu N. Siagian, menggelar rembuk sosial di Desa Kuala Sebatu, Selasa (10/2/2026). Sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, langkah Babinsa ini bagai perisai raksasa yang ditegakkan untuk menghadang ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengintai di musim kemarau.

Rembuk sosial tersebut bukan sekadar temu sapa, melainkan alarm keras bagi seluruh lapisan masyarakat. Babinsa menegaskan larangan membuka lahan dengan cara membakar, sebuah praktik yang diibaratkan percikan kecil yang mampu menjelma menjadi naga api, melahap hutan, kebun, bahkan harapan hidup masyarakat.

Di tengah Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, suara imbauan Babinsa menggema laksana lonceng bahaya. Setiap kata yang disampaikan menegaskan bahwa satu api yang dinyalakan tanpa kendali dapat berubah menjadi bencana maha dahsyat, menyesakkan udara dan mematikan denyut kehidupan.

Babinsa mengajak masyarakat menjadikan pencegahan karhutla sebagai tanggung jawab bersama. Dengan bahasa yang tegas namun membumi, ia menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam bukan hanya tugas aparat, tetapi amanah bersama demi keselamatan desa, kecamatan, hingga generasi yang akan datang.

Selain fokus pada pencegahan karhutla, Babinsa juga menghimbau masyarakat agar senantiasa menjaga kesehatan. Musim kemarau, ujar Babinsa, ibarat pedang bermata dua: di satu sisi memberi kemudahan aktivitas, di sisi lain mengancam tubuh jika lengah menjaga kondisi fisik.

Rembuk sosial ini menjadi panggung kebersamaan, tempat aparat dan warga bersatu melawan musuh tak kasat mata bernama api. Kehadiran Babinsa di tengah masyarakat bagaikan benteng baja yang menenangkan, memberi rasa aman sekaligus menyulut semangat gotong royong.

Melalui kegiatan komunikasi sosial tersebut, Babinsa Kuala Sebatu menegaskan komitmen TNI AD untuk selalu hadir di tengah rakyat. Langkah ini menjadi bukti bahwa pencegahan karhutla bukan wacana kosong, melainkan gerakan nyata yang berdenyut di nadi desa.

Dengan rembuk sosial ini, Desa Kuala Sebatu diharapkan menjelma menjadi wilayah siaga, di mana api sekecil jarum pun tak diberi ruang. Sebuah ikhtiar besar digelorakan: lebih baik memadamkan niat membakar sejak dini, daripada memadamkan api yang sudah terlanjur membara seluas samudra.

Terkini