Inflasi Riau Februari 2026 Capai Angka 5,30 Persen, Tertinggi di Tembilahan

Senin, 02 Maret 2026 | 21:34:53 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi.

PEKANBARU – Inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Provinsi Riau pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,06.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 7,32 persen dengan IHK 113,24. Sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Kampar sebesar 5,14 persen dengan IHK 112,90.

“Pada Februari 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Riau sebesar 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,06. Inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 7,32 persen dengan IHK sebesar 113,24 dan terendah terjadi di Kabupaten Kampar, dimana terjadi inflasi y-on-y sebesar 5,14 persen dengan IHK sebesar 112,90,” ujar Asep.

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau mengalami inflasi sebesar 0,32 persen. Namun secara tahun kalender (year to date/y-to-d), Riau justru mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.

Asep menjelaskan, inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 19,60 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 16,27 persen.

Kemudian kelompok pendidikan sebesar 5,05 persen; makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,90 persen; pakaian dan alas kaki sebesar 2,37 persen; kesehatan sebesar 2,08 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,97 persen; transportasi sebesar 0,61 persen; serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,07 persen.

“Di sisi lain dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99 persen dan kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,10 persen,” jelasnya.

Secara umum, perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2026 menunjukkan adanya kenaikan. IHK meningkat dari 106,42 pada Februari 2025 menjadi 112,06 pada Februari 2026.

Sejumlah komoditas dominan yang memberikan andil inflasi y-on-y antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, ayam hidup, akademi/perguruan tinggi, bawang merah, ikan serai, sewa rumah, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, Sigaret Kretek Mesin (SKM), telur ayam ras, beras, sepeda motor, nasi dengan lauk, dan tomat.

Sementara komoditas yang menyumbang deflasi y-on-y di antaranya cabai merah, kentang, cabai rawit, bensin, bawang putih, sabun detergen bubuk, tarif parkir, minyak goreng, terong, masker, jengkol, sabun cair/cuci piring, ikan baung, kacang panjang, susu bubuk balita, bahan bakar rumah tangga, dan pengarum cucian.

Untuk inflasi bulanan (m-to-m), komoditas yang dominan menyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, cabai merah, tomat, daging ayam ras, jengkol, SKM, tarif dokter spesialis, udang basah, mobil, dan daging sapi.

"Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi m-to-m di antaranya bawang merah, cabai rawit, bayam, telur ayam ras, buncis, bensin, sawi putih, cabai hijau, sawi hijau, ayam hidup, ketimun, kacang panjang, dan kangkung," jelasnya.

Pada Februari 2026, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil inflasi y-on-y terbesar yakni 1,89 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,45 persen serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,28 persen.

Kelompok pendidikan menyumbang 0,24 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,21 persen; pakaian dan alas kaki 0,14 persen; transportasi 0,08 persen; serta kesehatan 0,06 persen.

Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga menjadi satu-satunya kelompok yang menyumbang deflasi y-on-y sebesar 0,05 persen.

"Adapun kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan serta rekreasi, olahraga dan budaya tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi maupun deflasi," tandasnya.

Terkini