Di area pelabuhan yang sibuk dengan aktivitas bongkar muat, jarak dan posisi seorang pekerja bukan sekadar masalah teknis, melainkan penentu utama antara hidup dan mati. Menyadari tingginya risiko kecelakaan akibat interaksi antara manusia dan alat berat, PT Pelindo Regional 1 Tembilahan kini menggencarkan kampanye keselamatan kerja yang berfokus pada pemahaman "Safe Zone" dan bahaya "Blind Spot". Kampanye ini dirancang untuk memastikan setiap individu di lingkungan pelabuhan menyadari bahwa kewaspadaan adalah kunci utama mencegah insiden yang tidak diinginkan.
Konsep Safe Zone didefinisikan sebagai area aman di mana pekerja dapat terlihat jelas oleh pengemudi alat berat atau truk kontainer. Sebaliknya, Blind Spot atau titik buta adalah area berbahaya di sekitar kendaraan yang sama sekali tidak terlihat oleh operator, meskipun pengemudi telah menggunakan kaca spion. Berada di zona merah ini sangat fatal karena pengemudi tidak akan menyadari keberadaan orang di sana, sehingga risiko tertabrak atau terjepit menjadi sangat tinggi dalam hitungan detik.
General Manager PT Pelindo Regional 1 Tembilahan, Riky Armadi, menegaskan bahwa keselamatan kerja adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. Dalam penjelasannya baru-baru ini, Riky menyoroti bahwa banyak kecelakaan kerja terjadi bukan karena kegagalan mesin, melainkan karena kelalaian manusia dalam memposisikan diri. "Blind spot adalah area yang tidak dapat terlihat oleh operator. Tanpa disadari, berada di zona ini dapat meningkatkan potensi bahaya yang fatal," ujar Riky saat memberikan arahan kepada seluruh jajaran pekerja dan kontraktor di wilayah operasional Tembilahan.
Riky Armadi menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin melakukan sosialisasi dan pelatihan mendalam terkait identifikasi titik buta pada berbagai jenis alat berat, mulai dari forklift, crane, hingga truk pengangkut kontainer. Menurutnya, pemahaman ini harus tertanam dalam budaya kerja sehari-hari. "Kami menemukan masih ada pekerja yang berjalan terlalu dekat dengan sisi samping atau belakang truk tanpa memastikan kontak mata dengan pengemudi. Kebiasaan inilah yang harus segera kita ubah demi keselamatan bersama," tambah Riky dengan nada serius.
Sebagai langkah konkret, Pelindo Tembilahan menerapkan protokol ketat di mana pekerja wajib berhenti dan menunggu di area aman sebelum melintasi jalur kendaraan. Pekerja dilarang keras mendekat dari sisi belakang, samping, atau depan truk yang sedang beroperasi atau bahkan saat mesin menyala. Protokol ini juga mewajibkan adanya kontak mata antara pekerja dan pengemudi sebagai tanda persetujuan bahwa keberadaan pekerja telah terdeteksi. Langkah sederhana ini terbukti efektif meminimalisir risiko salah persepsi di lapangan.
Selain prosedur operasional, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang standar juga menjadi sorotan utama dalam kampanye ini. Riky menekankan bahwa rompi reflektif dan helm berwarna cerah berfungsi membuat pekerja lebih mudah terdeteksi, terutama saat bekerja di kondisi minim cahaya atau cuaca buruk. Namun, ia mengingatkan bahwa APD bukanlah jaminan keamanan mutlak jika pekerja tetap nekat memasuki area blind spot. Kombinasi antara visibilitas tinggi dan disiplin posisi adalah formula terbaik untuk mencegah kecelakaan.
Komitmen Pelindo Regional 1 Tembilahan dalam menciptakan lingkungan kerja nol kecelakaan (zero accident) mendapat respons positif dari para pekerja. Edukasi berkelanjutan mengenai bahaya blind spot diharapkan dapat mengubah pola pikir dari sekadar mengikuti aturan menjadi kesadaran mandiri untuk melindungi nyawa sendiri dan rekan kerja. Riky berharap agar setiap individu menjadi agen keselamatan yang saling mengingatkan jika melihat rekan mereka berada di posisi yang membahayakan.
Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan oleh Pelindo Tembilahan sangat jelas: kecelakaan bisa terjadi dalam hitungan detik, dan penyesalan selalu datang terlambat. Dengan memahami dan mematuhi prinsip tetap di SAFE ZONE serta menghindari BLIND SPOT, seluruh elemen pelabuhan dapat bekerja dengan tenang dan produktif. Mari jadikan keselamatan sebagai budaya, karena nyawa adalah aset paling berharga yang tidak dapat diganti dengan apapun.