Pelindo Tembilahan kembali menggaungkan pentingnya kesadaran keselamatan kerja bagi seluruh personel yang beroperasi di lingkungan pelabuhan, khususnya terkait bahaya titik buta atau blind spot pada kendaraan berat. Himbauan ini dikeluarkan sebagai langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan kerja yang sering kali disebabkan oleh ketidaktahuan pekerja terhadap area yang tidak terlihat oleh pengemudi truk maupun alat berat lainnya. Langkah ini menjadi krusial mengingat tingginya mobilitas kendaraan di area sandar dan lapangan penumpukan barang.
Dalam kampanye keselamatan terbaru ini, Pelindo Tembilahan secara tegas membedakan antara zona berbahaya dan zona aman melalui visualisasi yang mudah dipahami. Area depan, samping, dan belakang truk yang masuk dalam kategori blind spot ditandai sebagai zona merah atau daerah terlarang, di mana keberadaan pejalan kaki sama sekali tidak terpantau oleh pengemudi. Sebaliknya, zona hijau atau safe zone didefinisikan sebagai posisi strategis di mana pekerja dapat terlihat jelas oleh pengemudi, sehingga interaksi antara manusia dan mesin dapat berlangsung dengan aman.
General Manager (GM) Pelindo Tembilahan, Riky Arnadi, menekankan bahwa satu kesalahan kecil dalam menentukan posisi berdiri atau berjalan di sekitar kendaraan operasional dapat berakibat fatal. "Satu langkah salah posisi bisa jadi risiko besar. Jangan sampai berada di area yang tidak terlihat oleh pengemudi," ujar Riky dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa banyak insiden terjadi bukan karena kelalaian pengemudi semata, melainkan karena pekerja terlalu percaya diri berada di dekat kendaraan tanpa memastikan visibilitas mereka.
Riky Arnadi menjelaskan bahwa karakteristik kendaraan berat di pelabuhan memiliki keterbatasan pandangan yang signifikan dibandingkan kendaraan biasa. Sudut pandang pengemudi sering kali terhalang oleh muatan kontainer, struktur kabin, atau peralatan tambahan pada truk. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai geometri blind spot menjadi kompetensi wajib bagi setiap pekerja, baik yang berstatus karyawan tetap maupun mitra kerja, untuk menghindari tragedi yang sebenarnya dapat dicegah.
Lebih lanjut, GM Pelindo Tembilahan tersebut menguraikan empat prinsip utama yang harus diingat selalu oleh seluruh insan pelabuhan. Pertama, setiap individu wajib mengenali titik-titik buta di sekitar kendaraan sebelum mendekatinya. Kedua, jaga jarak aman setiap saat dan jangan pernah berasumsi bahwa pengemudi sudah melihat Anda. Ketiga, pastikan posisi tubuh Anda berada dalam garis pandang langsung pengemudi. Keempat, utamakan keselamatan di atas kecepatan pekerjaan, karena tidak ada target operasional yang lebih berharga daripada nyawa manusia.
Kampanye ini juga menyoroti budaya keselamatan yang harus dibangun secara kolektif, di mana saling mengingatkan antar-rekan kerja menjadi kunci pencegahan kecelakaan. Riky mengajak seluruh pihak untuk tidak segan menegur rekan yang terlihat berada di zona merah, meskipun hal tersebut mungkin terasa tidak nyaman sesaat. "Keselamatan kerja adalah tanggung jawab bersama. Kita harus membangun ekosistem di mana setiap orang merasa berhak dan berkewajiban untuk menjaga keselamatan dirinya dan orang lain," tegasnya.
Implementasi himbauan ini akan diperkuat dengan pemasangan rambu-rambu peringatan di titik-titik rawan serta sosialisasi berkelanjutan melalui safety talk rutin setiap pagi. Pelindo Tembilahan berkomitmen untuk menyediakan pelatihan simulasi blind spot agar pekerja dapat mengalami langsung bagaimana keterbatasan pandangan seorang pengemudi. Dengan demikian, kesadaran akan bahaya ini tidak hanya berhenti pada teori, tetapi tertanam dalam insting setiap pekerja saat berada di lapangan.
Sebagai penutup, Riky Arnadi menyampaikan pesan mendalam bahwa tujuan akhir dari segala aktivitas kerja di pelabuhan adalah memastikan setiap pekerja dapat pulang ke rumah dengan selamat kepada keluarganya. "Pastikan Anda pulang dengan selamat setiap hari," pesannya menutup arahan tersebut. Melalui kewaspadaan terhadap blind spot dan disiplin mematuhi zona aman, Pelindo Tembilahan berharap dapat mewujudkan lingkungan kerja nol kecelakaan (zero accident) yang menjadi fondasi bagi operasional pelabuhan yang efisien dan berkelanjutan.