Produktivitas Padi Inhil Masih Tertinggal, Kadistan Inhil Minta Dukungan Kementerian untuk Pengembangan Benih Adaptif

Ahad, 17 Mei 2026 | 21:20:01 WIB

 Tembilahan – Upaya strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional mendapat perhatian serius dari Kementerian Pertanian RI melalui kunjungan langsung Tenaga Ahli ke Kabupaten Indragiri Hilir Minggu (17/5). Kunjungan yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Hasil Sembiring, M.Sc juga sebagai kepala IRRI Perwakilan Indonesia ini bertujuan meninjau secara langsung potensi dan tantangan di sentra produksi pertanian, khususnya di Kecamatan Enok dan Sungai Batang, sebagai bagian dari dukungan program nasional dalam menjaga stabilitas pasokan pangan daerah.

Rombongan memulai tinjauan lapangan di Nursery Kelapa Desa Pantai Seberang Makmur, Kecamatan Enok, yang dikelola oleh salah satu badan usaha lokal. Di atas lahan seluas 1,5 hektar, tim menyaksikan ketersediaan 135.000 bibit kelapa siap salur, yang menunjukkan komitmen daerah dalam pengembangan komoditas perkebunan unggulan. Kehadiran Kepala Dinas Pertanian Inhil, Umar Hamdi, S.Pt, mendampingi tim pusat menegaskan sinergi antara pemerintah daerah dan kementerian dalam mengoptimalkan potensi agribisnis lokal.

Setelah meninjau sektor perkebunan, fokus kunjungan bergeser ke sektor pangan utama dengan mengunjungi Kilang Padi Gapoktan Muara Baru di Kelurahan Benteng, Kecamatan Sungai Batang. Fasilitas pengolahan ini menjadi tulang punggung program Brigade Pangan Misbar, di mana kapasitas produksinya mampu mengolah 10 ton gabah hanya dalam waktu tujuh jam dengan standar kadar air 14%. Capaian produksi bulan ini yang mencapai 250 ton membuktikan efisiensi operasional kilang tersebut dalam mendukung kebutuhan beras masyarakat.

Potensi Sungai Batang sebagai lumbung pangan daerah semakin menguat dengan keberadaan merek lokal "Beras Benteng" dan "Pulau Kijang". Camat Sungai Batang, H. Basri, S.Pi, dalam sesi ramah tamah mengungkapkan bahwa enam desa di wilayahnya telah berhasil melayani kebutuhan pangan bagi delapan desa dengan total penduduk sekitar 11.000 jiwa. Integrasi antara produksi, pengolahan, dan distribusi lokal ini menjadi contoh nyata kemandirian pangan tingkat kecamatan yang perlu terus dikembangkan.

Namun, di balik potensi tersebut, Kepala Dinas Pertanian Inhil, Umar Hamdi, menyoroti tantangan produktivitas padi yang masih belum optimal. Data menunjukkan rata-rata produktivitas padi di Inhil berada di angka 4,5 ton per hektar, masih di bawah rata-rata nasional sebesar 5,2 ton per hektar. Kondisi lahan suboptimal dengan tingkat keasaman tanah (pH) sekitar 5,2 serta keterbatasan infrastruktur irigasi membatasi petani hanya dapat melakukan dua kali tanam dalam setahun menggunakan varietas lokal konvensional.

Untuk mengatasi hambatan agronomis tersebut, Kadistan Inhil mengusulkan pengembangan varietas unggul baru seperti "Karya Putih" yang memiliki potensi produktivitas hingga 6,3 ton per hektar. Varietas ini dinilai mampu mendukung intensifikasi pertanian menjadi tiga kali tanam per tahun, sehingga dapat meningkatkan output secara signifikan. Usulan ini memerlukan dukungan riset berkelanjutan dan penyediaan benih unggul dari pusat agar adaptasi terhadap kondisi lahan Inhil dapat berjalan efektif.

Menanggapi paparan tersebut, para ahli dari Kementerian Pertanian memberikan sejumlah rekomendasi teknis dan kebijakan. Prof. Hasil Sembiring menekankan pentingnya uniformitas benih lokal untuk mengurangi ketergantungan pada impor beras, sementara Dr. Agus Wahyana Anggara S Si M Si dari BBRMP Riau mengingatkan tentang pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan) yang telah disalurkan sejak 2024 serta dorongan sertifikasi SNI untuk produk lokal. Dr. Ajat Jatnika M Sc dari Balai Besar Pelatihan Pertaniann Lembang juga memastikan adanya pendampingan teknis berkelanjutan bagi Brigade Pangan untuk mengatasi kendala di lapangan.

Meskipun terdapat dukungan penuh dari pusat, realisasi program Optimalisasi Lahan (Oplah) masih menghadapi kendala di lapangan. Manager Brigade Pangan Benteng Barat Misbar,S.STP melaporkan bahwa dari target 80 hektar pada tahun 2025, baru 30 hektar yang terealisasi dari total 201 hektar lahan yang dikelola, dengan sisanya mengalami gagal tanam. Menutup diskusi, Kadistan Inhil menegaskan bahwa kunci keberhasilan program Oplah pada inovasi varietas yang tepat guna dan perbaikan sistem irigasi, demi mewujudkan kesejahteraan petani Inhil yang lebih baik.

Terkini