Mulai 1 Juli, Bahan Bakar Biodisel B50 Mulai Diluncurkan Pemerintah

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:18:43 WIB

JAKARTA - Per tanggal 1 Juli 2026 mendatang, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan meluncur bahan bakar Biodisel B50. B50 merupakan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis baru, biodiesel atau campuran solar dengan minyak sawit 50% (B50). 

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia menerangkan, peluncuran Biodisel B50 ini telah melewati uji teknis yang komprehensif yang sudah dilakukan secara bertahap sejak Desember 2025 lalu.

Dia mengungkapkan, uji teknis pemanfaatan Biodisel B50 ini sudah dilakukan diberbagai sektor strategis, mulai sektor otomotif, alat mesin pertanian (alsintan), alat berat pertambangan, angkutan laut, kereta api, hingga infrastruktur pembangkit listrik

"Ketahanan energi merupakan Asta Cita Presiden selain ketahanan pangan. Implementasi program B50, tepatnya 1 Juli akan ada implementasi B50 sesuai dengan arahan Presiden," katanya, dalam konferensi pers melalui YouTube Badan Komunikasi Pemerintah,  Rabu (17/6/26). 

Dwi Anggia menjelaskan, geopolitik global saat ini sangat dinamis yang menyebabkan fluktuasi harga minyak dunia berdampak sekali terhadap harga energi di tanah air. 

Sejalan dengan arahan Presiden, agar Indonesia dapat mengoptimalkan sumber daya domestik serta juga mendorong transisi energi yang bersih dan berkelanjutan. 

Karena itu, kata dia,  pemerintah melalui Kementerian ESDM mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati jenis biodiesel ini  sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil dan juga sekaligus memperkuat kemandirian dan ketahanan energi. 

"Bapak ibu bisa merasakan langsung ketergantungan impor ini rentan sekali membuat kita bergantung dan  inilah yang diharapkan kita bisa mandiri, " lanjutnya. 

Jubir Menteri ESDM menambahkan, secara bertahap pemerintah mulai berupaya melakukan pengurangan impor BBM, baik itu dari bensin kemudian juga solar. 

Kemudian kata dia, hadirnya BBM jenis bari B50 ini salah satunya adalah yang diupayakan agar Indonesia stop impor solar, dan mendukung ketahanan energi. 

Selain itu juga jelas dia, pemanfaatan energi baru terbarukan sesuai dengan kondisi Indonesia turut berperan aktif menciptakan atau mencapai zero emission dan juga mendukung pertumbuhan ekonomi. 

"Dengan implementasi B50 ini akan meningkat nilai tambah sawit kita, sehingga manfaat secara ekonomi nya lebih banyak dirasakan  nanti oleh petani sawit kita, dan juga yang tidak kalah penting adalah lebih kepada green energi," tuturnya. 

Dwi Anggia berharap, stakeholder pelaku industri bisa mendukung penggunaan bahan bakar nabati, juga mendukung penyiapan dari hulu bahan bakunya, kemudian produksi kualitas maupun distribusi serta pencampurannya. Karena jelas dia, itu sangat menentukan penggunaan B50 serta kualitas dari B50 itu sendiri. 

Sementera itu, dia juga menginginkan dukungan dari masyarakat untuk penggunaan bahan bakar nabati ini sebagai bagian dari kontribusi nyata untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan ketergantungan terhadap impor, juga mendukung upaya untuk energi lebih bersih. 

"Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong ini (pemanfaatan Biodisel B50)  bisa terlaksana dengan baik," tutupnya.

Terkini