HUT ke-242 Pekanbaru, Datuk Seri Marjohan Yusuf: Maju Modern Tanpa Hilangkan Budaya Melayu

Rabu, 24 Juni 2026 | 13:03:58 WIB
Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Datuk Seri Marjohan Yusuf

PEKANBARU - Perkembangan pesat sebuah kota sering kali membawa tantangan tersendiri terhadap kelestarian budaya lokal. Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, upaya menjaga identitas budaya menjadi bagian penting agar kemajuan tidak menghilangkan akar sejarah dan nilai-nilai diwariskan para pendahulu.

Memasuki usia ke-242 tahun, Kota Pekanbaru terus menunjukkan pertumbuhan sebagai kota metropolitan yang semakin maju dan berdaya saing. Berbagai pembangunan infrastruktur, peningkatan investasi, hingga pertumbuhan sektor perdagangan menjadi penanda kemajuan yang dirasakan masyarakat.

Namun, di balik geliat pembangunan tersebut berbagai kalangan mengajak untuk selalu ingat pentingnya menjaga nilai-nilai budaya Melayu sebagai jati diri daerah. Budaya yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat dinilai harus tetap hidup dan berkembang seiring kemajuan zaman.

Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Datuk Seri Marjohan Yusuf, menyampaikan ucapan selamat atas peringatan hari jadi Kota Pekanbaru yang ke-242. Menurutnya, kemajuan yang dicapai saat ini patut menjadi kebanggaan seluruh masyarakat.

“Syabas dan Tahniah Milad ke 242 Kota Pekanbaru yang semakin maju, modern dan berdaya saing,” ujar Datuk Seri Marjohan Yusuf di Pekanbaru, Selasa (23/06/2026).

Dijelaskan bahwa langkah menuju kemajuan harus tetap dibarengi dengan komitmen menjaga warisan budaya Melayu yang menjadi identitas masyarakat Riau. Ia menambahkan, modernisasi tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

“Tetaplah melangkah kedepan, tanpa menghilangkan Budaya Melayu sebagai jati diri. Insyaallah, nilai-nilai Melayu terjaga di Pekanbaru,” jelasnya.

Datuk Seri Marjohan Yusuf juga menuturkan bahwa pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang mampu memadukan kemajuan teknologi dan ekonomi dengan nilai agama, adat istiadat, bahasa, serta budaya yang menjadi ciri khas daerah. Dengan demikian, kemajuan kota tetap memiliki arah dan karakter yang kuat.

“Modern berjalan seiring dengan nilai-nilai atau norma agama, adat, bahasa dan budaya. Tetaplah bermarwah serta bermartabat di Bumi Lancang Kuning Riau,” tuturnya.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Ketua UKM Batra Universitas Riau, Juan Dono. Ia menilai perkembangan Pekanbaru sebagai kota urban telah menciptakan masyarakat yang semakin heterogen dengan latar belakang budaya yang beragam.

“Saya memandang perkembangan pesat Pekanbaru sebagai kota urban telah membentuk struktur masyarakat yang sangat heterogen. Percampuran penduduk dari berbagai latar belakang suku dan budaya sudah sering kita temui, sehingga nilai-nilai kearifan lokal Melayu memang menjadi tantangan besar untuk dipertahankan,” katanya.

Diterangkan, fenomena perubahan demografi yang terjadi saat ini menuntut pemerintah untuk bekerja lebih serius dalam menjaga eksistensi budaya Melayu. Baginya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial semata, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan nyata yang berdampak langsung kepada masyarakat.

“Fenomena anomali penduduk membuat Pemerintah Kota Pekanbaru kini dituntut untuk mengerahkan tenaga dan komitmen ekstra dalam menghidupkan kembali marwah budaya Melayu agar tidak semakin tergerus zaman. Upaya ini tidak boleh lagi sekadar bersifat seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui kebijakan konkret,” terangnya.

Lebih lanjut, Juan menekankan pentingnya menghadirkan pendekatan yang kreatif dalam mengenalkan budaya kepada generasi muda. Menurutnya, budaya Melayu memiliki kekayaan yang sangat luas yang dapat dikembangkan menjadi ruang ekspresi  menarik bagi penerus bangsa.

“Strategi pengenalan budaya kepada generasi muda harus dikemas secara tidak kaku, mengingat kekayaan adat Melayu tak terbatas pada seni tari saja tetapi juga mencakup tradisi sastra Melayu hingga seni rupa. Oleh karena itu, penyediaan wadah kreatif menjadi langkah baik yang harus dilakukan pemerintah,” ucapnya.

Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga budaya tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga adat, akademisi, budayawan, komunitas, dan masyarakat agar upaya pelestarian budaya dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Dalam merawat dan melestarikan warisan leluhur ini terlalu besar jika hanya satu pihak, sehingga sangat diperlukan adanya kolaborasi bersama yang solid antara pemerintah, tokoh adat, akademisi, budayawan, hingga komunitas. Sinergi inilah menuntut kita merangkul visi yang sama, yaitu menjaga jati diri kebudayaan daerah tetap hidup di tengah arus modernisasi,” tegasnya.

Pada momentum Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru, Juan berharap agar pemko terus memperluas ruang bagi generasi muda untuk berkreasi sekaligus mengenal budayanya sendiri. Dengan sinergi yang kuat dan kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya, Kota Bertuah dapat mampu tumbuh sebagai kota modern yang tetap menjunjung tinggi marwah Melayu sebagai identitas utamanya.

“Besar harapan saya agar Bapak Wali Kota bisa mengarahkan dinas terkait untuk bergerak aktif menyediakan ruang ekspresi bagi penerus bangsa. Melalui KolaborAksi, saya percaya komitmen itu akan mempertahankan nilai-nilai adab, sopan santun, dan identitas Melayu tumbuh kembang menyertai kemajuan peradaban di Kota Pekanbaru," pungkasnya.

Terkini