Selamatan Kampung Kelurahan Concong Luar

Kamis, 25 Juni 2026 | 21:34:18 WIB

Penulis :
Hariadi, SE, M.Si
Sekcam Concong

Tradisi selamatan kampung di Kelurahan Concong Luar sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir sejak lama, terutama sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Allah SWT bagi warga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan. Tradisi ini berkembang dari kebiasaan masyarakat melayu pesisir yang hidup bergantung pada laut (nelayan), menghadapi risiko besar seperti cuaca buruk dan gelombang sehingga membutuhkan doa bersama agar diberi keselamatan dan rezeki.

Seiring waktu, kegiatan ini menjadi adat tahunan masyarakat dan dilakukan secara turun-temurun di lingkungan Kelurahan Concong Luar. Kegiatan ini sudah dilaksanakan mulai sejak tahun 1970 an saat itu status wilayahnya masih Desa Concong Luar. Dalam pelaksanaannya, selamatan kampung di Kelurahan Concong Luar biasanya berisi zikir dan doa bersama di masjid (Masjid Nurul Huda), pembacaan doa keselamatan kampung dan kegiatan keliling kampung menggunakan pompong (perahu nelayan) yang melibatkan seluruh warga, tokoh agama, dan pemerintah setempat.

Secara budaya dan agama, maksud dan tujuan tradisi ini memiliki makna untuk memohon keselamatan kampung dari musibah, memohon rezeki yang lancar bagi nelayan, memperkuat kebersamaan warga serta menjaga hubungan sosial antar masyarakat pesisir.

Kelurahan Concong Luar sendiri dikenal sebagai wilayah pesisir dengan kehidupan masyarakat yang kuat di bidang perikanan dan nelayan, tradisi melayu pesisir dan budaya gotong royong dan keagamaan yang kuat. Dengan demikian selamatan kampung di Kelurahan Concong Luar bukan hanya acara seremonial, tapi sudah menjadi tradisi budaya melayu pesisir yang dipadukan dengan nilai agama Islam, sebagai bentuk syukur dan doa keselamatan bagi seluruh warga kampung.

Selamatan kampung sering diadakan pada bulan Muharram karena bulan ini dianggap istimewa dalam kalender Islam dan juga sudah menyatu dengan tradisi masyarakat melayu pesisir seperti di Kelurahan Concong Luar.

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Islam. Dalam banyak tradisi, awal tahun dimaknai sebagai awal yang baru, waktu yang baik untuk memulai hal positif dan momen refleksi diri dan memperbanyak doa. Karena itu, selamatan kampung sering dijadikan “pembuka tahun” dengan doa keselamatan untuk setahun kedepan.

Muharram termasuk salah satu bulan haram (bulan suci), yaitu bulan yang dimuliakan Allah. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa, memperbanyak amal ibadah dan menjauhi pertikaian. Masyarakat kemudian menggabungkan nilai agama ini dengan tradisi, sehingga selamatan kampung dianggap sangat tepat dilakukan di bulan ini.

Kelurahan Concong Luar yang mayoritas nelayan dimana cuaca dan laut sangat menentukan kehidupan sehingga awal tahun bulan islam menjadi momen penting untuk “meminta perlindungan”. Jadi selamatan kampung di Muharram dianggap sebagai doa bersama agar satu tahun kedepan rezeki nelayan selalu aman.

Dalam budaya melayu pesisir, Muharram juga dikenal sebagai waktu untuk memperkuat kebersamaan kampung dengan mengadakan kenduri atau selamatan besar serta mempererat hubungan warga sehingga seiring waktu, kebiasaan ini menjadi tradisi adat yang terus dilestarikan.

Sebelum hari pelaksanaan, masyarakat biasanya melakukan persiapan dengan melakukan musyawarah kampung (tokoh agama, tokoh masyarakat RT/RW) dengan agenda untuk  menentukan hari pelaksanaan (bulan Muharram), membentuk panitia kecil sebagai pelaksana, mengumpulkan dana atau sumbangan sukarela kepada warga, menyiapkan konsumsi (nasi berkat, lauk-pauk) serta membersihkan masjid, jalan kampung, dan area acara sehingga nilai gotong royong yang sangat kuat.

Pada saat pelaksanaan hari puncak selamatan kampung warga mulai berkumpul di masjid atau titik pusat kampung dan panitia menata tempat duduk, sound system, dan hidangan, dimana tokoh agama dan tamu undangan mulai hadir. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan dari tokoh masyarakat atau pemerintah setempat. Adapun acara inti yang paling penting adalah acara (doa selamatan) yang dimulai dengan zikir dan doa bersama yang dipimpin oleh ustaz atau tokoh agama untuk keselamatan kampung, perlindungan dari bencana, kelancaran rezeki nelayan serta kesehatan warga. Suasana biasanya khidmat dan semua warga ikut mengaminkan.

Sebelum hidangan dibagikan, dilakukan arak-arakan keliling kampung, warga naik pompong (perahu nelayan) berkeliling perairan sekitar kampung dengan membaca doa atau zikir di atas perahu sebagai simbol “menjaga kampung dari laut” setelah itu langsung menuju masjid untuk dilaksanakan doa penutup. setelah doa, hidangan dibagikan (nasi berkat) dan warga makan bersama di masjid atau dibawa pulang untuk keluarga. Intinya adalah  kebersamaan tanpa membedakan status social.

Untuk tahun 2026 atau 1448 Hijriah, Selamatan Kampung akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 2026 bertepatan 16 Muharam 1448 Hijiriah. Berdasarkan hasil musyawarah pelaksanaan akan dilaksanakan pada malam hari (bakda Isya). Mari kita ramaikan dan sukseskan kegiatan Selamatan Kampung yang sudah menjadi tradisi turun temurun di Kelurahan Concong Luar Kecamatan Concong

Terkini