Bertaruh Nyawa Tanpa Sinyal: Perjuangan Petarung Api Manggala Agni di Pulau Serdang

Sabtu, 11 Juli 2026 | 17:36:10 WIB
Manggala Agni

PEKANBARU – Jam di pergelangan tangan baru saja melewati pukul 15.00 WIB ketika raungan mesin kendaraan satu regu Manggala Agni Daops Sumatera III/Dumai akhirnya terhenti. Matahari Jumat (10/7/2026) sedang terik-teriknya saat tapak-tapak sepatu bot para "petarung api" ini menyentuh tanah Desa Pulau Serdang, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Mereka baru saja menyelesaikan perjalanan melelahkan selama delapan jam penuh, menembus belantara dan akses darat yang ekstrem terisolasi demi mendekati titik api.

Perjalanan itu adalah sebuah pembuktian dedikasi. Berangkat sejak Jumat pagi buta setelah menerima alarm darurat berupa temuan fire spot dari tim patroli udara, para personel Manggala Agni langsung bergerak. Namun, geografi Rokan Hilir tidak pernah ramah bagi kendaraan pemadam. Waktu delapan jam dihabiskan bukan sekadar berkendara, melainkan berkejaran dengan waktu, meniti jalanan rusak, dan mencari celah terbaik agar armada tempur mereka bisa sedekat mungkin dengan jantung kebakaran.


 

Sesampainya di lokasi, tidak ada waktu untuk meluruskan pinggang yang kaku. Musuh yang mereka hadapi bukanlah api biasa, melainkan bara yang menjalar di dalam perut lahan gambut. Karakteristik lahan gambut yang menipu, tampak padam di permukaan namun membara di kedalaman, membuat Manggala Agni wajib bergerak taktis. Langkah pertama yang diambil bukanlah menyemprotkan air, melainkan menggelar prosedur keselamatan ketat yang disebut size up atau penilaian medan awal.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa penilaian awal ini sangat penting demi keselamatan personel. Di bawah komandonya, tim langsung menyebar untuk memetakan perimeter kebakaran, memastikan jalur evakuasi, dan mengidentifikasi sumber air terdekat. Di tengah kepulan asap yang mulai menyesakkan dada, sebuah pesawat nirawak (drone) diterbangkan ke langit Pulau Serdang untuk membidik visual perimeter secara utuh.

"Sampai dengan pukul 15.00 WIB tim baru bisa menembus lokasi. Sesampainya di sana, tim langsung melakukan size up untuk memastikan akses menuju lokasi, perimeter kebakaran, sumber air terdekat, serta menerbangkan drone guna melihat kondisi area secara utuh sebagai dasar penyusunan strategi pemadaman," ujar Ferdian Krisnanto saat dikonfirmasi pada Sabtu (11/7/2026) pagi.


 

Dari mata kamera drone yang menembus kepekatan asap kabut, barulah terlihat skala ancaman yang sesungguhnya. Hamparan lahan gambut seluas kurang lebih tujuh hektare dilaporkan telah hangus dan terus mengeluarkan asap tebal. Beruntung, Manggala Agni tidak sendirian di garis depan. Di titik penyerangan, telah ada tim gabungan awal di lapangan yang terlebih dahulu baku hantam dengan api di darat, disokong oleh gemuruh helikopter water bombing yang menjatuhkan ribuan liter air dari udara untuk memotong laju kepala api.

Memasuki hari Sabtu (11/7/2026), fokus operasi beralih pada pemadaman lanjutan secara total dan intensif. Tim Manggala Agni mulai memadukan kekuatan dengan tim awal untuk menyisir sisa-sisa bara tersembunyi. Namun, selain medan yang sulit diakses dan hawa panas gambut yang menyengat, para petugas di lapangan harus menghadapi dinding tak kasat mata bernama isolasi komunikasi. Di Desa Pulau Serdang, sinyal seluler adalah barang mewah yang hampir mustahil didapatkan.


 

"Minimnya ketersediaan sinyal seluler menjadi kendala utama dalam pengiriman laporan dari lapangan secara cepat. Meski demikian, keterbatasan jaringan komunikasi sama sekali tidak mengurangi fokus dan ketangguhan tim di lapangan dalam menjalankan operasi penanganan kebakaran. Seluruh hasil pemetaan kemarin menjadi acuan untuk pelaksanaan pemadaman yang kami lanjutkan secara lebih intensif hari ini," tegas Ferdian menutup penjelasannya.

Hingga berita ini diterbitkan, Tim Manggala Agni masih berada di atas lahan gambut Pulau Serdang. Tanpa sinyal ponsel, mereka terus bertahan di garis depan. Berbekal koordinasi yang matang dan strategi berbasis data drone, para pelindung hutan ini bertekad memastikan bahwa tujuh hektare lahan yang membara tidak akan bertambah barang satu jengkal pun.

Terkini