Makna Kemerdekaan: Kala Sultan Siak Menyerahkan Tahta dan Harta demi Indonesia

Senin, 17 Agustus 2026 | 18:11:42 WIB
Sultan Syarif Kasim II

SIAK - Di tengah euforia proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang masih seumur jagung, sebuah langkah besar diambil dari tepian Sungai Siak.  Sultan Syarif Kasim II, penguasa ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura, memutuskan untuk menanggalkan jubah kekuasaannya demi bergabung dengan Republik. Pemimpin muda yang lahir pada 1 Desember 1893 ini tidak sekadar menyatakan kesetiaan di atas kertas. 

Ia menyerahkan seluruh kedaulatan wilayahnya, ladang-ladang minyak kaya raya, hingga perhiasan mahkota emas bertabur intan berlian kepada pemerintah Indonesia yang baru berdiri. Tak berhenti di situ, sang Sultan menguras kantong pribadinya dengan menyumbangkan uang tunai sebesar 13 juta Gulden Belanda, sebuah nominal fantastis yang kini ditaksir setara dengan lebih dari Rp1.000 triliun.

"Dia menjamin pendanaan Indonesia dengan menyerahkan mahkota-mahkota emas bertaburan intan berlian, untuk mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, sultan juga memberi uang pribadinya 13.000.000 Gulden Belanda. Suatu jumlah yang sangat besar," ujar Budayawan Riau, Taufik Ikram Jamil, Senin (17/8/2026).

Pendidikan, Pengorbanan, dan Wasiat Sang Ayah

Tindakan sang Sultan bukanlah keputusan impulsif, melainkan wujud kepatuhan pada amanah sang ayah. Wasiat leluhur menegaskan bahwa jika tidak ada lagi keturunan langsung yang memerintah, seluruh harta dan benda kerajaan harus diserahkan kepada pemerintah yang sah. 

Ketika tak memiliki putra mahkota, Syarif Kasim II memegang teguh Janji tersebut. Dia memilih untuk melepas mahkota, kembali menjadi rakyat biasa, dan mendedikasikan seluruh kekayaannya bagi kedaulatan bangsa.

Sebelum Indonesia merdeka, fokus kepemimpinannya sudah mengakar kuat pada kesejahteraan rakyat dan pendidikan. Sultan memelopori pendirian sekolah bagi kaum pribumi serta menyokong beasiswa hingga 70 persen untuk para pelajar. Sosoknya juga dikenal taat beragama dan berjiwa dermawan yang rutin bersedekah setiap hari Jumat.

"Dia banyak dikenang orang karena selama menjadi Sultan, selalu bersedekah tiap hari Jumat. Bahkan, dia memberikan beasiswa kepada pelajar sampai 70 persen. Jadi dari total biaya pelajar, 70 persennya dibantu SSK II, tentunya sangat membantu," ucapnya.

Pejuang Garis Depan dan Penasihat Presiden

Tradisi perlawanan terhadap penjajah bukanlah hal baru di tanah Riau. Sejak perlawanan terhadap Portugis di Gasib Siak pada 1512 hingga perang menentang Belanda di abad ke-18 dan 19, darah pejuang telah mengalir kuat. Sultan Syarif Kasim II meneruskan tradisi tersebut dengan cara modern.

"Kalau soal berperang menentang penjajah, orang Riau melakukannya sejak abad ke-16. Setelah Malaka ditaklukkan Portugis, orang-orang dari Gasib Siak memerangi Portugis tahun 1512. Ini disusul oleh Narasinga II tahun 1516 dan 1520. Abad ke-18, Tengku Buang Asmara menyerang Belanda di Siak, sedangkan Tuanku Tambusai abad 19, seangkatan dengan Diponegoro dan Imam Bonjol. Pada saat bersamaan, Riau juga menyerang Belanda di Indragiri di bawah pimpinan Panglima Sulung," ujarnya.

Di bulan pertama kemerdekaan, Sultan bersama permaisuri meresmikan Tentara Rakyat Indonesia langsung di halaman Istana Siak untuk membakar semangat perlawanan rakyat. Pengabdiannya diakui oleh Presiden Soekarno yang mengangkatnya sebagai penasihat negara sejak 1946 hingga 1950-an. Menerima tawaran tersebut dengan lapang dada, sultan menetapkan satu syarat. Yakni bekerja tanpa menerima gaji sepeser pun dari negara.

Akhir Hayat Sang Pahlawan Nasional

"Setelah merumahkan kekuasaannya dan mengabdi sebagai rakyat biasa, Sultan melanjutkan hidupnya dengan bersahaja. Beliau menikah kembali dengan seorang wanita yang telah memiliki anak, hidup jauh dari gemerlap kemewahan istana yang dulu dipimpinnya," cerita Taufik.

Sultan Syarif Kasim II wafat di Rumbai, Pekanbaru pada 23 April 1968 di usia 74 tahun. Atas pengorbanan tanpa tanding dan ketulusan jiwanya membesarkan Republik, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1998 (Keppres No. 109/TK/1998). Hal itu mengabadikan nama sang Sultan yang rela miskin harta demi melihat bangsanya kaya akan kemerdekaan.

"SSK II menikah sebelum kemerdekaan saat masih sultan, lalu cerai waktu setelah Indonesia merdeka. Beberapa waktu kemudian, dia menikah lagi dengan wanita yang telah memiliki anak," pungkasnya.

Terkini