Cerita Sumaya: Banting Setir ke Teqball, Berujung Medali Perak Asian Games Jepang

Senin, 21 September 2026 | 12:19:39 WIB
Foto Arsip Sumaya

PEKANBARU - Jalan menuju podium Asian Games ternyata tidak selalu dimulai dari olahraga yang pertama kali dicintai. Sumaya merasakan sendiri bagaimana kegagalan justru membuka pintu menuju kesempatan yang lebih besar. 

Berawal dari keinginan mengikuti jejak kedua orangtuanya di cabang sepak takraw, ia kemudian beralih ke olahraga yang saat itu masih asing baginya, teqball. Pilihan tersebut akhirnya membawa Sumaya ke panggung Asian Games di Nagoya, Jepang.


 

Di Nagoya City Higashi Sports Center, Sumaya tampil konsisten hingga berhasil membawa pulang medali perak untuk Indonesia. Perjalanannya menuju final dimulai dengan kemenangan 2-0 atas Lebanon. Pada pertandingan kedua, ia kembali menang 2-0 atas Myanmar.

Pertandingan ketiga menghadapi Kirgistan berlangsung lebih ketat. Sumaya harus bermain hingga tiga gim sebelum akhirnya menang 2-1. Langkahnya berlanjut dengan kemenangan 2-0 atas Kamboja.

Hasil tersebut mengantarkannya ke semifinal. Di babak empat besar, Sumaya kembali menunjukkan mental bertandingnya. Menghadapi India, ia berhasil mengamankan kemenangan 2-1 sekaligus memastikan tempat di partai final. Namun, final mempertemukannya kembali dengan Myanmar.

Pertandingan berlangsung sengit. Kali ini Sumaya harus mengakui keunggulan lawannya setelah kalah 1-2. Ia pun menyelesaikan perjuangannya dengan medali perak.

Bagi Sumaya, kunci menjalani pertandingan adalah tidak membebani diri sendiri.

"Percaya diri saja, tidak ada mikir-mikir yang berat. Enjoy saja," kata Summaya, Senin (21/9/26). 

Sumaya tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh di tengah keluarga atlet. Sang ayah, Safrudin, merupakan pelatih sepak takraw. Sedangkan ibunya, Khairani, adalah mantan pemain sepak takraw yang pernah memperkuat tim nasional Indonesia.

Sejak kecil, Sumaya mendapatkan tempaan olahraga dari kedua orangtuanya. Bukan hanya teknik, tetapi juga disiplin, mental dan motivasi untuk terus berjuang.

Awalnya, Sumaya ingin mengikuti jejak ayah dan ibunya. Ia ingin berprestasi melalui sepak takraw dan memberikan sesuatu untuk Indonesia.

Kesempatan itu kemudian datang melalui berbagai pelatihan dan seleksi. Pada 2024, ia mengikuti seleksi di Sumatera Utara. Namun, namanya belum masuk dalam daftar yang diharapkan.

Kegagalan tersebut sempat membuat jalan menuju tim nasional sepak takraw belum terbuka. Tetapi, di balik itu muncul kesempatan lain yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Saat itu, teqball masih terdengar asing baginya. Namun, ia melihat olahraga tersebut sebagai peluang baru. Ia pun memutuskan mencoba. Sumaya kembali mengikuti pelatihan di Riau. Dari berbagai uji coba, pertandingan dan ekshibisi, kemampuannya mulai terlihat.

Perlahan, namanya diperhitungkan di tingkat nasional. Dari olahraga yang awalnya asing, Sumaya akhirnya menemukan panggung baru untuk mengembangkan kemampuan dan mengejar cita-citanya membela Indonesia.

"Tuhan sepertinya memberikan jalan yang lain," ungkapnya.

Sebelum tampil di Asian Games Nagoya, Sumaya menjalani persiapan panjang. Sekitar satu setengah bulan ia menjalani latihan di Surabaya. Setelah itu, persiapan dilanjutkan di Jakarta selama sepekan, tepatnya di kawasan Blok S.

Baru setelah seluruh rangkaian persiapan tersebut, Sumaya bertolak ke Jepang untuk menghadapi persaingan di Asian Games. Hasilnya terbayar di lapangan.

Enam pertandingan dijalani hingga partai final. Lima kemenangan berhasil diraih sebelum akhirnya Sumaya harus puas dengan medali perak.

Perjuangan Sumaya di partai final juga mendapat perhatian langsung dari Menteri BUMN Erick Thohir yang hadir menyaksikan pertandingan menghadapi Myanmar.

Usai pertandingan, Erick Thohir menyampaikan ucapan terima kasih atas perjuangan Sumaya membawa nama Indonesia dan raihan medali perak tersebut. Ucapan tersebut menjadi tambahan motivasi bagi Sumaya.

Bagi kedua orangtuanya yang masih berada di Rupat, Kabupaten Bengkalis, keberhasilan Sumaya merupakan kebanggaan tersendiri. Mereka terus memberikan dukungan dan motivasi agar Sumaya tidak berhenti berjuang.

Medali perak tersebut juga menjadi bukti bahwa kegagalan pada satu kesempatan bukan berarti perjalanan harus berhenti. Justru dari kegagalan itulah Sumaya menemukan jalan baru.

Dari sepak takraw menuju teqball. Dari olahraga yang sudah akrab sejak kecil menuju cabang yang awalnya sama sekali asing. Hingga akhirnya, langkah itu membawanya ke podium Asian Games di Jepang. Sumaya kini masih berada di Jepang sembari mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia. Dari perjalanan yang dilaluinya, ia memiliki satu pesan sederhana bagi anak-anak muda yang sedang mengejar impian.

"Jangan takut mencoba hal baru. Terus berjuang dengan sungguh-sungguh, fokus pada satu tujuan dan berikan yang terbaik."

Pesan itu sejalan dengan perjalanan yang telah dilaluinya sendiri. Sebab, jika Sumaya tidak berani mencoba teqball setelah gagal dalam seleksi sepak takraw, mungkin cerita tentang medali perak Asian Games di Nagoya tidak akan pernah terjadi. 

Terkini