Air Mata Haru Ibu di Dumai: Saat Token Habis dan Listrik Menjerit, Polisi Datang Menolong

Air Mata Haru Ibu di Dumai: Saat Token Habis dan Listrik Menjerit, Polisi Datang Menolong

DUMAI – Sebuah rumah kontrakan sederhana di wilayah hukum Polsek Dumai Timur mendadak riuh. Di tengah suara detak mesin meteran listrik yang mulai menjerit lantaran kehabisan token, hadir rombongan Polres Dumai yang membawa secercah harapan. 

Kedatangan mereka bukan untuk urusan hukum, melainkan untuk merajut kembali senyum seorang anak bernama Azka (7) yang selama ini berangkat sekolah tanpa identitas kebanggaan, seragam nasionalnya.

Keluarga tersebut hidup dalam keterbatasan yang nyata, sang ayah berjuang mengadu nasib sebagai buruh kasar di Batam, sementara sang ibu bertahan hidup dengan kerja serabutan demi menghidupi lima orang anak. 

Cerita memilukan terungkap saat sang ibu berkisah bahwa selama ini anak-anaknya hanya mengandalkan seragam lungsuran dari warga sekitar atau bergantian dengan saudara sendiri. 

Bahkan, Azka, si bungsu yang baru menyentuh bangku sekolah kelas 1 SD itu, terpaksa harus masuk kelas hanya dengan mengenakan pakaian rumah biasa.

Kondisi ini menyentuh hati jajaran Kapolres Dumai, AKBP Angga Febrian Herlambang. Aksi ini adalah bagian dari tanggung jawab moral korps Bhayangkara. 

Menurut Angga, kepolisian tidak boleh hanya terpaku pada menjaga ketertiban umum di jalan raya atau mengejar pelaku kriminal, tetapi juga harus hadir sebagai penyambung hidup bagi warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, terutama dalam sektor pendidikan.

"Polri adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Kegiatan pemberian bantuan seragam sekolah ini adalah bentuk nyata kepedulian kami terhadap masa depan anak-anak di Dumai. Jangan sampai ada anak yang merasa rendah diri atau kehilangan motivasi belajar hanya karena fasilitas sekolah yang tidak memadai," ujar AKBP Angga dengan nada penuh empati, Kamis (5/2/2026).

Senada dengan Kapolres, Kapolsek Dumai Timur, Kompol Aditya Reza yang turun langsung ke lokasi, memimpin jalannya penyerahan bantuan tersebut. Ia melihat sendiri bagaimana binar mata anak-anak tersebut saat menerima seragam baru yang masih wangi kain pabrik. 

Baginya, semboyan 'Polri untuk Masyarakat' bukan sekadar hiasan di spanduk, melainkan aksi konkret yang harus dirasakan langsung oleh mereka yang berada di garis kemiskinan.

Kegiatan "Polisi Berbagi Kasih" ini merupakan pengejawantahan dari Program Jalur Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan. Program ini menekankan pada kehadiran Polri yang tidak hanya mengandalkan kewenangan, tetapi lebih mengedepankan empati dan aksi nyata di tengah masyarakat. 

"Saat kami datang, kondisi rumah kontrakan Azka itu token listrik berbunyi," kata Reza.

Kondiai tersebut menjadi simbol betapa krusialnya kehadiran negara di saat-saat paling genting dalam kehidupan warga kecil.

Seragam baru ini diharapkan menjadi pemantik semangat bagi Azka dan saudara-saudaranya. Dengan pakaian yang layak, anak-anak diharapkan bisa lebih percaya diri dalam mengembangkan potensi diri dan mengejar prestasi setinggi-tingginya. 

"Bantuan ini juga menjadi pesan bagi keluarga penerima bahwa mereka tidak berjuang sendirian dalam menghadapi tekanan ekonomi," katanya.

Aditya menyanpaikan kepolisian berkomitmen untuk terus melanjutkan program serupa secara berkala. Melalui sentuhan-sentuhan kecil namun bermakna seperti ini.

"Semoga tali silaturahmi dan kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian semakin erat. Karena pada akhirnya, keamanan wilayah yang kondusif bermula dari kesejahteraan dan kebahagiaan warga yang terjaga dengan baik," jelasnya.