Riyan: Rohil Butuh Akselerasi Serius di Sektor Tenaga Kerja

Riyan: Rohil Butuh Akselerasi Serius di Sektor Tenaga Kerja
Ketua DEMA STAI Ar Ridho sekaligus Mantan Koordinator BEM Rokan Hilir 2023, Riyan

Rokan Hilir — Memasuki satu tahun kepemimpinan Bupati H. Bistamam dan Wakil Bupati Jhoni Charles, perhatian publik mulai tertuju pada arah pembangunan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), khususnya dalam upaya membuka lapangan kerja dan memperkuat kualitas tenaga kerja lokal.

Mantan Ketua DEMA STAI Ar Ridho sekaligus Mantan Koordinator BEM Rokan Hilir 2023, Riyan, menilai periode awal pemerintahan ini merupakan fase penting untuk meletakkan fondasi kebijakan ketenagakerjaan yang kuat dan berkelanjutan.

Menurutnya, visi mewujudkan Rohil yang bermarwah, maju, sejahtera, beriman, dan berbudaya hingga tahun 2029 telah memberikan arah pembangunan yang jelas. Namun, capaian visi tersebut sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah dalam memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan daya saing sumber daya manusia lokal.

“Komitmen pada penguatan SDM dan pemerataan ekonomi sudah tepat. Tantangannya sekarang adalah memastikan implementasinya di lapangan berjalan konsisten dan terukur,” ujar Riyan.


Tantangan Ketenagakerjaan Masih Terbuka

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kabupaten Rokan Hilir berada di kisaran 4,3 persen pada 2024. Angka tersebut menunjukkan masih adanya belasan ribu masyarakat yang belum terserap dalam pasar kerja.

Selain itu, struktur ketenagakerjaan Rohil masih didominasi sektor informal seperti pertanian, perkebunan, serta perdagangan skala kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi menuju pekerjaan formal dan produktif masih memerlukan dorongan kebijakan yang berkelanjutan.

Riyan menilai dinamika penataan tenaga non-ASN sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN juga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Pengetatan kebijakan honorer berpotensi menambah tekanan pada pasar kerja lokal jika tidak diimbangi dengan perluasan lapangan kerja alternatif.

“Fenomena ini perlu dibaca sebagai momentum untuk mempercepat pertumbuhan sektor riil. Masyarakat pada dasarnya membutuhkan pekerjaan yang stabil dan berkelanjutan,” katanya.


Revitalisasi Balai Latihan Kerja

Dalam kerangka penguatan SDM, Riyan menekankan pentingnya transformasi pelatihan kerja daerah. Ia menilai Balai Latihan Kerja (BLK) harus semakin diselaraskan dengan kebutuhan sektor unggulan Rohil.

Beberapa sektor yang dinilai potensial antara lain migas dan jasa penunjangnya, agroindustri, logistik, serta ekonomi digital yang terus berkembang.

Menurutnya, hingga saat ini penguatan infrastruktur pelatihan kerja di Rohil masih perlu terus dioptimalkan. Kesempatan peningkatan keterampilan bagi pencari kerja daerah masih banyak bergantung pada fasilitas pelatihan tingkat provinsi maupun program yang bersifat terbatas dan periodik.

Karena itu, ia mendorong percepatan pembangunan maupun revitalisasi BLK yang modern, berbasis kebutuhan industri, serta mudah diakses oleh pemuda daerah.

“Tanpa lompatan pada sektor pelatihan kerja, peningkatan daya saing tenaga kerja lokal berpotensi berjalan lebih lambat dibanding kebutuhan dunia usaha,” ujarnya.


Optimalisasi Dampak Blok Rokan

Selain penguatan SDM, Riyan juga menyoroti potensi besar sektor migas di wilayah Blok Rokan. Ia menilai keberadaan industri strategis tersebut seharusnya mampu memberi kontribusi lebih besar terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.

Menurutnya, pemerintah daerah dapat terus memperkuat peran melalui fasilitasi kemitraan, pengawasan implementasi komitmen tenaga kerja lokal, serta koordinasi aktif dengan kontraktor utama maupun perusahaan subkontraktor.

Ia menekankan bahwa keterlibatan putra daerah perlu dilakukan secara terukur dan transparan agar manfaat ekonomi dari industri migas benar-benar dirasakan masyarakat Rohil.


Penguatan Ekosistem Wirausaha

Di luar sektor formal, Riyan juga menilai penguatan kewirausahaan pemuda menjadi strategi penting untuk memperluas basis ekonomi daerah. Program inkubator bisnis, pendampingan usaha muda, serta perluasan akses pembiayaan dinilai perlu berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Menurutnya, pengembangan wirausaha tidak cukup berhenti pada kegiatan pelatihan seremonial, tetapi harus diikuti dengan pendampingan nyata hingga usaha mampu tumbuh dan bertahan.

 

Infrastruktur dan Konektivitas

Riyan turut menyoroti pembangunan konektivitas wilayah yang menjadi bagian dari agenda pemerintah daerah. Ia menilai pembangunan infrastruktur memiliki potensi membuka simpul-simpul ekonomi baru di berbagai kecamatan.

Namun demikian, ia mengingatkan agar dampak pembangunan infrastruktur terhadap penyerapan tenaga kerja lokal terus dipantau dan dievaluasi secara berkala.

“Pembangunan infrastruktur akan optimal jika diikuti pertumbuhan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.


Harapan terhadap Konsistensi Kebijakan

Lebih lanjut, Riyan berharap sinergi kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati tetap terjaga dengan baik. Menurutnya, harmonisasi di tingkat pucuk pimpinan daerah sangat menentukan konsistensi arah kebijakan pembangunan.

Ia juga menilai satu tahun pertama memang masih merupakan fase awal pemerintahan. Namun pada periode ini, arah kebijakan biasanya mulai terlihat dari prioritas anggaran, desain program, serta keberpihakan pada isu strategis daerah.

“Jika konsistensi implementasi visi dan misi terus dijaga, peluang Rohil untuk tumbuh lebih produktif dan berdaya saing masih sangat terbuka,” ujarnya.

Riyan menegaskan Kabupaten Rokan Hilir memiliki potensi ekonomi yang besar. Karena itu, ia berharap akselerasi program ketenagakerjaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat terus diperkuat agar visi pembangunan menuju 2029 tidak hanya kuat di level dokumen, tetapi benar-benar dirasakan dalam peningkatan kesempatan kerja masyarakat Rohil.