Kemenangan Sejati di Balik Hujan: Tentang Akhlak, Persaudaraan, dan Kedewasaan Jiwa

Kemenangan Sejati di Balik Hujan: Tentang Akhlak, Persaudaraan, dan Kedewasaan Jiwa

Pekanbaru - Langit Kota Pekanbaru seolah sepakat untuk meneteskan rahmatnya sejak ufuk timur belum sepenuhnya merekah pada pagi nan fitri. Rintik hujan yang mengguyur bumi sedari subuh menghadirkan udara dingin yang menusuk tulang, namun sama sekali tak membekukan kehangatan iman ribuan umat muslim di Riau.

Di tengah kepungan cuaca yang tak bersahabat, lantunan takbir terus menggema syahdu, membelah derasnya hujan dan memeluk erat Halaman Kantor Gubernur Provinsi Riau, menyambut datangnya 1 Syawal 1447 Hijriah.

Sejak jarum jam menunjuk pukul 06.30 WIB, gelombang manusia telah membanjiri pusat pemerintahan tersebut. Pria, wanita, hingga anak-anak datang dengan balutan busana terbaik mereka, menenteng sajadah dengan wajah penuh binar kemenangan. 

Awalnya, pelataran luas Halaman Kantor Gubernur disiapkan sebagai hamparan sajadah raksasa di bawah kubah langit. Namun, rintik yang semula malu-malu berubah menjadi guyuran deras yang memaksa panitia dan jamaah memutar haluan.

Kehendak alam tak bisa ditawar, ribuan jamaah dengan sigap mengevakuasi diri, mencari tempat bernaung dari tetesan hujan yang kian rapat. Rencana ibadah di ruang terbuka terpaksa dibatalkan, dialihkan ke dalam pelukan Masjid Al Hidayah yang berada tepat di kompleks Kantor Gubernur Riau. Suasana yang tadinya lapang berubah menjadi pusaran lautan manusia yang bergerak serentak mencari saf terdepan di dalam rumah Tuhan.

Di sudut lorong gedung Kantor Gubernur yang agak temaram, Dedi, salah seorang jamaah yang tak kebagian tempat, berdiri dengan selembar sajadah yang terlipat di dadanya. Sorot matanya memancarkan keikhlasan meski harus menepi dari saf utama.

“Yang penting kita sudah niat untuk solat Id, tapi Allah berkehendak lain. Tidak ada tempat lagi untuk solat di Masjid, penuh sesak. Hujan lebat ini, banyak juga yang tidak solat karena tidak ada tempat, akhirnya berdiri di lorong. Ada juga yang memaksakan diri solat di lorong,” tuturnya dengan nada pasrah.

Meski diwarnai perpindahan dan keterbatasan ruang, esensi ibadah tak sedikit pun luntur. Tepat pukul 07.40 WIB, setelah eksodus jamaah dari halaman ke dalam gedung perlahan tertata, gema iqamah memecah gemuruh hujan.

Di bawah pimpinan Ustaz H. Amin Yono Al Hafiz yang bertindak sebagai imam, ribuan tubuh ruku dan sujud dalam satu komando, menghadirkan harmoni yang menggetarkan sanubari, membuktikan bahwa hujan hanyalah panggung, sementara ketaatan adalah pertunjukan utamanya.

Kekhusyukan ibadah berlanjut tatkala Kepala Kanwil Kemenag Riau, Dr  H Muliardi, melangkah ke mimbar membawakan khotbah. Suaranya yang teduh mengalirkan pesan-pesan spiritual ke sudut-sudut masjid hingga ke lorong-lorong tempat jamaah bernaung.

Idulfitri tahun ini, tegasnya, menghadirkan pesan yang teramat kuat, bahwa kemenangan Ramadan sejati haruslah tercermin dalam keindahan akhlak, eratnya ikatan persaudaraan, dan kedewasaan jiwa dalam menyikapi segala bentuk perbedaan.

Hujan deras pagi itu tidak mencuci semangat, melainkan membersihkan ego dan menguji keikhlasan. Mereka yang bersujud di atas karpet empuk masjid, maupun mereka yang menundukkan kepala di atas lantai dingin lorong perkantoran, sama-sama merengkuh hakikat kemenangan di mata Sang Pencipta.