Begini Strategi Kementan Antisipasi Dampak Kemarau

Begini Strategi Kementan Antisipasi Dampak Kemarau

JAKARTA -Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Muhammad Agung Sunusi menyampaikan beberapa langkah dan strategi dalam mengantisipasi dampak kemarau dibidang pertanian.

Muhammad Agung Sunusi menuturkan, Kementan telah menyampaikan surat kepada seluruh kepala daerah di seluruh Indonesia langkah-langkah strategis antisipasi dampak kemarau. 

Kata dia, ada lima poin yang menjadi perhatian dalam mengantisipasi kemarau ini, yang pertama melakukan mapping wilayah langganan kekeringan dan langkah early warning system (EWS), antisipasi, adaptasi dan mitigasi kekeringan. 

"Optimalkan pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur air dangkal dan sumber air lainnya, serta memanfaatkan pompanisasi, perpipaan dan irigasi perpompaan," katanya, dalam Rakor Pengendalian Inflasi disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (20/4/26). 

Ditjen Hortikultura Kementan melanjutkan, langkah antisipasi dampak kemarau selanjutnya adalah gerakan percepatan tanam pada wilayah potensial dengan menggunakan varietas genjah, tahan kekeringan seperti inpago 4-13, inpari 38-46, situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, Cakrabuana dan lain-lain. 

Selanjutnya, mengatur pola tanam sesuai kondisi iklim dan ketersediaan air pada masing-masing wilayah. 

"Tingkatkan koordinasi dan sinergi antara Pemda dan seluruh pemangku kepentingan dalam pemantauan kondisi lahan pertanian," ujar dia. 

Muhammad Agung Sunusi menambahkan, strategi antisipasi dampak musim kemarau bisa dilakukan dengan antisipasi sebelum kemarau terjadi, adaptasi saat musim kemarau dan mitigasi mengurangi dampak kekeringan. 

Lanjut dia, sebelum terjadinya kemarau, bisa melakukan perencanaan musim tanam, dengan melakukan mapping wilayah langganan kekeringan, EWS dan pantau secara rutin prediksi CH dari BMKG, siap siaga brigade kekeringan, P3A, ulu-ulu, koordinasi dan sinergi. 

Kemudian penyediaan sarana produksi dengan menyiapkan benih tahan kekeringan, pemupukan berimbang dan tepat. 

"Bisa pula dilakukan penguatan infrastruktur air dengan melakukan rehabilitasi jaringan irigasi dan pembangunan embung, sumur air dangkal atau dalam, serta long storage," katanya. 

Ditjen Hortikultura Kementan menyebutkan, sedangkan untuk adaptasi saat musim kemarau bisa dilakukan pengelolaan lahan hemat air irigasi intermiten, sistem gilir air. 

Melakukan pola tanam adaptif dengan memprioritaskan tanam di lahan rawa dan minimal IP 250, tingkatkan IP dan provista di lahan irigasi teknis, tanam di lahan kering dan tadah hujan dengan pompa, irpom dan irpipa

"Bisa pula melakukan pengelolaan tanah dengan penambahan bahan organik atau olah tanah minimum," ucapnya. 

Muhammad Agung Sunusi menambahkan langkah dalam memitigasi atau mengurangi dampak kekeringan, bisa dengan melakukan asuransi pertanian yakni pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan bantuan benih gratis bagi yang puso. 

Kemudian, manajemen risiko produksi dengan dilakukan penjadwalan tanam secara bertahap, tidak serempak untuk semua lahan dan cadangan air darurat. 

"Bantuan pemerintah melalui bantuan pompa air irigasi perkumpulan irigasi perpipaan, bangun konservasi benih dan subsidi input lainnya," tutupnya.