Babinsa Sungai Junjangan Adaptif Patroli Tapal Batas Cegah Karhutla

Babinsa Sungai Junjangan Adaptif Patroli Tapal Batas Cegah Karhutla

Batang Tuaka – Babinsa Koramil 12/Batang Tuaka, Sertu Fero A. Duha, melaksanakan sosialisasi dan patroli kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Junjangan, Selasa (19/5/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 10.13 WIB ini menyasar area tapal batas desa dengan melibatkan tiga warga setempat.

Patroli dilakukan di titik koordinat 0°16'21,478"S 103°4'27,115"E yang dikenal sebagai wilayah perbatasan antar dusun. Sertu Fero A. Duha menegaskan, tapal batas sering menjadi area rawan karena minimnya pengawasan dan berpotensi disalahgunakan untuk pembukaan lahan dengan cara dibakar.

“Adaptif terhadap kondisi lapangan adalah kunci. Kami tidak hanya patroli, tapi juga berdialog dengan warga agar batas wilayah jelas dan tidak memicu konflik maupun kebakaran,” ujar Sertu Fero A. Duha di sela kegiatan.

Dalam patroli tersebut, tim gabungan yang terdiri dari satu personel TNI dan tiga warga menyisir area rawan. Mereka memeriksa tanda-tanda aktivitas pembukaan lahan ilegal serta memberikan imbauan langsung kepada warga yang dijumpai di sekitar lokasi.

Sertu Fero menjelaskan, pendekatan humanis menjadi strategi utama Babinsa dalam menjaga wilayah. Dengan membangun komunikasi yang baik, masyarakat lebih terbuka menyampaikan informasi terkait potensi kebakaran maupun aktivitas mencurigakan di tapal batas.

Hasil pemantauan menunjukkan tidak ditemukan titik api maupun asap di sepanjang jalur patroli. Kondisi ini mencerminkan kesadaran warga Sungai Junjangan yang mulai memahami risiko karhutla terhadap lingkungan dan kesehatan.

Babinsa menambahkan, patroli tapal batas akan terus dilakukan secara rutin, terutama saat musim kemarau. Kehadiran Babinsa di lapangan diharapkan mampu menekan angka karhutla sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap wilayahnya.

Koramil 12/Batang Tuaka mengapresiasi peran aktif warga Sungai Junjangan dalam menjaga wilayahnya. Sinergi antara Babinsa dan masyarakat dinilai efektif untuk mempertahankan status nihil titik api dan menjaga kelestarian lingkungan desa.