Hadapi El Nino 2026, BMKG Dorong Koordinasi Pusat dan Daerah

Hadapi El Nino 2026, BMKG Dorong Koordinasi Pusat dan Daerah

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena elnino akan muncul pada Juli hingga September 2026. Untuk itu, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengharapkan lintas sektor baik pusat maupun daerah untuk bersiap-siap menghadapi dampak elnino 2026 ini. 

Teuku Faisal Fathani menyebutkan, langkah antisipasi elnino ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi risiko kekeringan, gangguan produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara, hingga potensi tekanan terhadap inflasi daerah.

"Sampai dengan Juni ini ada beberapa daerah yang sudah mengalami musim kemarau. Jadi fenomena elnino mempengaruhi bagian selatan garis khatulistiwa, mulai dari NTT, NTB, Bali, Jawa bagian pesisir, kemudian Sumatera bagian selatan," ujarnya, dalam sosialisasi kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena elnino dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri, disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (29/6/2026).

Kepala BMKG melanjutkan, wilayah yang berpotensi mengalami dampak elnino paling signifikan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. 

Jelas dia, pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibandingkan rata-rata klimatologis.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, fenomena elnino telah memasuki kategori kuat dengan peluang mencapai 98 persen. Oleh karena itu, elnino berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau," sebutnya. 

Teuku Faisal melanjutkan, elnino merupakan fenomena iklim global yang mempengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. 

Dia menuturkan, perlu dipahami bahwa elnino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan elnino terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau. 

Jelasnya, elnino diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Namun demikian, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut.

“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya elnino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan BMKG ini, Kepala BMKG berharap lintas sektor semakin memperkuat persatuan dan kesatuan, berkoordinasi lintas sektor, sehingga dampak elnino bisa diminimalisir. 

“Saya yakin, dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, akan membuat kita bangsa Indonesia jauh lebih tangguh dan siap dalam menghadapi fenomena iklim ini,” tutupnya.