Jejak Manis Bambang Sugeng: Dari Badai Pandemi Jadi Peternak Madu dan Penjaga Hutan Riau

Jejak Manis Bambang Sugeng: Dari Badai Pandemi Jadi Peternak Madu dan Penjaga Hutan Riau
Bambang Sugeng

PEKANBARU – Badai pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia delapan tahun lalu menjadi mimpi buruk bagi banyak pelaku usaha yang terpaksa gulung tikar. Namun, bagi Bambang Sugeng atau yang akrab disapa Mas Sugeng, momen krisis tahun 2020 itu justru menjadi titik balik kehidupan yang mengubah nasibnya. Pria bersuara lembut dengan nada khas mendok Jawa ini nekat banting setir merintis budidaya lebah madu dari nol hingga kini sukses memetik buah manis dari keberaniannya.

Awalnya, Mas Sugeng mengaku sempat ragu dengan prospek usaha lebah madu di tengah situasi serba tidak pasti. Namun, lonjakan permintaan masyarakat akan produk penambah imunitas, terutama madu sialang dari lebah liar, membuka matanya akan peluang pasar yang begitu terbuka lebar. Rasa penasaran itu mendorongnya nekat berguru hingga ke Danau Lamo, Jambi, pada tahun 2020 demi melihat langsung bagaimana peternak lokal di sana mampu memanen hingga satu ton madu per bulan.

"Awalnya kami belum tahu seperti apa prospeknya. Tapi saat Covid-19 saya melihat permintaan madu meningkat, terutama madu sialang dari lebah liar. Dari situ saya berpikir budidaya lebah bisa menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan madu masyarakat," kenang Mas Sugeng sembari tersenyum menceritakan awal mula perjalanan bisnisnya.

Berkah Konsesi Akasia dan Beromzet Belasan Juta

Sekembalinya dari Jambi dengan tekad bulat, Mas Sugeng mulai merintis usaha ternak lebah secara mandiri di lokasi seadanya. Titik terang perkembangan usahanya melonjak tajam pada tahun 2021 ketika sebuah perusahaan konsesi memberikan akses bagi kelompok peternaknya untuk memanfaatkan area tanaman akasia produktif di Kecamatan Pinang Sebatang Barat, Kabupaten Siak. Melimpahnya nektar bunga akasia membuat perkembangan koloni lebahnya melesat pesat hingga kini ia mampu mengelola 300 kotak sarang lebah dengan omzet bulanan mencapai Rp12 juta hingga Rp18 juta.

Namun, akses emas di area konsesi tersebut tidak datang cuma-cuma, melainkan membawa misi mulia pelestarian lingkungan. Mas Sugeng dan kelompok peternaknya mengikat perjanjian kerja sama resmi yang mengamanahkan mereka berintegrasi menjadi bagian dari Masyarakat Peduli Api (MPA). Setiap hari, sembari mengecek koloni lebah, mereka mengemban kewajiban memantau kondisi kawasan serta melaporkan setiap potensi titik api maupun aktivitas mencurigakan demi menjaga keamanan ekosistem hutan dari bencana kebakaran.

"Kalau hutan terbakar, lebah kehilangan sumber pakan. Jadi menjaga hutan sama dengan menjaga usaha kami," tegas Mas Sugeng mengungkapkan filosofi di balik perannya yang dobel sebagai pengusaha sekaligus benteng pertahanan pemadam karhutla di tapak hutan Siak.

Berperang Melawan Beruang dan Hama Hutan

Perjalanan manis Mas Sugeng mengumpulkan pundi-pundi rupiah di tengah rindangnya pohon akasia tentu tak sepi dari ancaman. Risiko kegagalan panen selalu mengintai dari berbagai serangan hama alami, mulai dari koloni lebah penyengat (tabuhan) yang membunuh lebah ternak, burung pemakan lebah, infeksi jamur dan kutu pada sarang, hingga faktor cuaca musim hujan yang menurunkan produksi nektar.

Di antara sekian banyak gangguan ekosistem tersebut, ancaman paling ganas dan mengerikan datang dari kawanan beruang hitam liar yang kerap menyatroni area peternakan pada malam hari. Beruang-beruang tersebut tidak hanya mengincar madu, tetapi juga mengamuk dan merusak infrastruktur kotak sarang hingga menyebabkan kematian koloni lebah dalam jumlah besar.

"Yang parah itu beruang mas, biasanya muncul malam hari. Kalau beruang itu sebelum mengambil madu, sarang madu dari kotak-kotak itu ditarik-tariknya, lalu pergi. Nanti muncul lagi ditarik-tariknya lagi sebelum lebah-lebah pergi. Jadi bukan kotak aja yang dirusak, madu di dalam juga ikut mati karena tertimpa, terjepit papan-papan di dalam kotak. Itu kalau dibiarkan satu malam bisa berapa kotak abis mas," tutur Mas Sugeng.