DJPb Sebut Ekonomi Riau Tumbuh 4,89 Persen di Tengah Gejolak Global

DJPb Sebut Ekonomi Riau Tumbuh 4,89 Persen di Tengah Gejolak Global

PEKANBARU - Perekonomian Provinsi Riau tetap menunjukkan ketahanan hingga pertengahan tahun 2026 meski situasi ekonomi global masih dibayangi konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan internasional. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, surplus perdagangan yang besar, serta inflasi yang masih terkendali.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau, Adnan Wimbyarto, mengatakan tantangan global masih cukup berat akibat konflik di Timur Tengah, terutama antara Iran dengan Amerika Serikat beserta sekutunya, yang memicu ketidakstabilan pasokan energi dan fluktuasi harga minyak dunia.

"Memasuki pertengahan tahun 2026, perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan Amerika Serikat beserta sekutunya, meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan mendorong volatilitas harga minyak," kata Adnan saat merilis Realisasi Fiskal Regional Riau periode hingga 30 Juni 2026, Kamis (30/7/2026).

Selain itu, menurutnya, fragmentasi perdagangan global dan kebijakan moneter negara-negara maju masih menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, Indonesia, termasuk Provinsi Riau, mampu menjaga stabilitas ekonominya.

"Meskipun demikian, perekonomian Indonesia khususnya di Provinsi Riau tetap menunjukkan resiliensi yang baik. Permintaan domestik terjaga, inflasi relatif terkendali, sektor keuangan stabil, dan APBN tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional," ujarnya.

Adnan menjelaskan, ekonomi Riau pada Triwulan I Tahun 2026 tumbuh sebesar 4,89 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kuatnya aktivitas industri pengolahan, perdagangan, dan investasi.

"Perkembangan ekonomi Provinsi Riau juga menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89 persen (year-on-year), didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan investasi yang tetap kuat," ungkapnya.

Di sektor perdagangan internasional, Riau masih mempertahankan kinerja positif. Selama Januari hingga Mei 2026, provinsi ini mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$6,97 miliar. Nilai ekspor mencapai US$8,60 miliar, sedangkan impor tercatat sebesar US$1,63 miliar.

"Kinerja tersebut menunjukkan bahwa komoditas unggulan Riau, khususnya kelapa sawit beserta produk turunannya, masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional," jelas Adnan.

Dari sisi harga, inflasi Riau pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,35 persen secara bulanan dengan inflasi tahunan sebesar 4,55 persen. Kenaikan harga terutama dipicu oleh komoditas cabai merah, minyak goreng, tomat, bensin, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi, serta ikan patin.

"Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah," katanya.

Sementara itu, kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan. NTP Riau pada Juni 2026 berada di angka 193,69 atau turun 6,62 persen dibanding bulan sebelumnya akibat melemahnya harga kelapa sawit, kelapa, ayam ras pedaging, sapi potong, dan nanas.

Meski demikian, angka tersebut masih menempatkan Riau sebagai provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Sumatera setelah Bengkulu.

"Hal ini mencerminkan kuatnya nilai tukar petani terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) cukup stabil di angka 109,02," tutup Adnan.