Uji Coba MBG Konsep Prasmanan di Riau, Ini Syarat Lengkap Bagi Sekolah

Uji Coba MBG Konsep Prasmanan di Riau, Ini Syarat Lengkap Bagi Sekolah
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Riau, Ranto

PEKANBARU - Badan Gizi Nasional (BGN) kembali mempunyai gebrakan baru untuk penyaluran makanan di lingkungan sekolah, melalui konsep MBG Prasmanan. Berbagai aspek ketentuan menjadi perhatian penting untuk memastikan makanan yang diberikan kepada peserta didik memenuhi standar keamanan pangan.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Riau, Ranto, mengatakan terdapat sejumlah tahapan dan persyaratan yang harus dipenuhi sekolah sebelum ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan percontohan atau piloting pelayanan pemberian makanan bergizi dengan konsep prasmanan. 

Menurutnya, persyaratan tersebut tidak hanya menyangkut kesiapan teknis penyajian makanan, tetapi juga persetujuan dari pihak sekolah dan Tim Satuan Tugas (Satgas). Hal ini diperlukan agar pelaksanaan program memiliki dukungan serta koordinasi yang baik dari seluruh pihak terkait.

"Sebelum suatu sekolah ditetapkan layak melaksanakan piloting ini, terdapat beberapa tahapan dan persyaratan yang harus dipenuhi yaitu adanya persetujuan resmi dari pihak sekolah dan Tim Satgas," ujar Ranto di Kantor Gubernur Riau, Jumat (06/11/2026).

Setelah persetujuan diperoleh, sekolah harus mempersiapkan tata letak penyajian serta mengatur alur antrean siswa ketika mengambil makanan. Pengaturan tersebut penting untuk menciptakan proses pelayanan yang tertib, nyaman, dan tidak menimbulkan penumpukan peserta didik.

Selain itu, pelaksanaan pelayanan prasmanan juga melibatkan sejumlah petugas penyaji yang berasal dari tim, relawan atau siswa yang ditunjuk. Tenaga pendidik turut dilibatkan secara aktif untuk mendampingi dan memastikan kegiatan berjalan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.

"Kemudian, sekolah perlu menyiapkan tata letak meja penyajian serta alur antrean siswa saat mengambil makanan. Kami juga melibatkan tim, volunteer atau anak-anak yang ditunjuk sebagai petugas penyaji. Serta peran aktif tenaga pendidik juga kita libatkan," jelasnya.

Diungkapkan, aspek kebersihan dan keamanan pangan juga menjadi salah satu persyaratan utama dalam pelaksanaan piloting tersebut. Seluruh peralatan penyajian harus dipastikan dalam kondisi bersih dan higienis guna mencegah kontaminasi makanan yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan maupun pencernaan pada anak.

Di samping itu, porsi makanan harus disesuaikan dengan kelompok sasaran penerima manfaat. Pembedaan porsi besar dan kecil dilakukan agar kebutuhan makanan setiap peserta didik dapat terpenuhi berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG).

"Selanjutnya, memastikan seluruh alat saji bersih dan higienis guna menghindari kontaminasi yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada anak. Memastikan porsi makanan sesuai dengan sasaran (dibedakan antara porsi besar dan kecil) agar memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak," ungkap Ranto.

Pengawasan juga dilakukan melalui pencatatan kehadiran peserta didik dan pemantauan sisa makanan atau food waste. Pencatatan tersebut menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat tingkat partisipasi penerima manfaat sekaligus mengetahui makanan yang tidak dikonsumsi siswa.

Kesiapan fasilitas pendukung turut menjadi perhatian, terutama ketersediaan tempat mencuci tangan. Fasilitas ini diperlukan agar peserta didik dapat membiasakan perilaku hidup bersih dan menerapkan prosedur higienitas sebelum maupun sesudah menikmati makanan.

"Kami juga melakukan pencatatan kehadiran peserta didik serta memantau sisa makanan (food waste). Yang terpenting, di sekolah itu tersedianya fasilitas pendukung seperti tempat cuci tangan agar anak-anak dapat menerapkan prosedur higienitas yang baik," paparnya.

Selain kebersihan peralatan dan kesesuaian porsi, pengaturan suhu makanan juga menjadi bagian dari standar pelayanan. Ranto menerangkan, terdapat perbedaan penanganan suhu antara makanan yang dikirim menggunakan wadah tertutup atau ompreng dengan makanan yang disajikan melalui konsep prasmanan.

"Terkait suhu makanan, jika pengiriman menggunakan wadah tertutup atau ompreng makanan biasanya perlu didinginkan terlebih dahulu agar tidak berembun di dalam wadah. Namun, khusus untuk model prasmanan ini, suhu makanan dijaga tetap hangat dalam batasan standar yang aman dan nikmat dikonsumsi." pungkasnya.