Afni Ingin Pangan Lokal Siak Masuk Dapur MBG, Petani dan Pelaku UMKM Ikut Sejahtera

Afni Ingin Pangan Lokal Siak Masuk Dapur MBG, Petani dan Pelaku UMKM Ikut Sejahtera

SIAK– Di balik beragam sajian pangan lokal yang dipamerkan dalam Festival Pangan Lokal Kabupaten Siak, Bupati Afni Zulkifli melihat peluang ekonomi yang lebih besar. Ia ingin kreativitas ibu-ibu PKK tidak berhenti sebatas lomba memasak dan memamerkan menu, tetapi bisa membuka jalan bagi produk pangan masyarakat untuk masuk ke rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan begitu, manfaat program nasional tersebut tidak hanya dirasakan anak-anak yang mendapatkan makanan bergizi, tetapi juga petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha pangan lokal yang selama ini berjuang memasarkan hasil produksinya.

Gagasan itu disampaikan Afni saat membuka Festival Pangan Lokal dan Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) tingkat Kabupaten Siak di Halaman Siak Bermadah, Kamis (5/11/2026).


 

Di hadapan peserta dari 14 kecamatan, Afni mengapresiasi kreativitas Tim Penggerak PKK yang mengolah berbagai potensi pangan daerah menjadi sajian menarik. Mulai dari ikan patin, ikan nila, nanas, ubi, labu hingga jamur, semuanya menunjukkan bahwa Siak memiliki kekayaan bahan pangan yang bisa dikembangkan.

Namun, bagi Afni, ada hal yang lebih penting daripada sekadar menghasilkan menu yang enak dan bergizi. Bagaimana bahan baku itu diproduksi, siapa yang memasok, siapa yang mengolah, dan ke mana hasil produksinya dipasarkan.

Afni tidak ingin pangan lokal hanya menjadi pajangan dalam festival atau sebatas konsumsi rumah tangga. Produk-produk tersebut harus memiliki pasar yang jelas sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.


 

"Nilai ekonominya bukan hanya pada suapan yang masuk ke mulut, melainkan bagaimana rantai pasok ini berjalan. Kalau mulai dari hulunya kita pikirkan, baru muncul kata sejahtera," ujar Afni, Jumat (6/11/2026).

Menurut Afni, program MBG menjadi salah satu peluang untuk mempertemukan kebutuhan pangan bergizi dengan potensi produksi masyarakat setempat. Bahan pangan lokal yang tersedia di kampung-kampung dapat dikembangkan menjadi produk yang memenuhi kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dengan pola tersebut, kebutuhan makanan bergizi bagi anak-anak sekaligus dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. Petani memiliki kepastian pasar, nelayan mendapatkan peluang penyerapan hasil tangkapan, sementara pelaku UMKM memiliki kesempatan memperluas usahanya.

"Kita ingin kreativitas dan inovasi ini diberdayakan. Pangan lokal adalah kekuatan utamanya. Kalau terserap, hulu hingga hilirnya bisa menciptakan masyarakat yang sehat sekaligus sejahtera," katanya.

Afni juga berharap menu-menu hasil kreativitas PKK dapat menjadi alternatif sajian di dapur SPPG. Selain memperkenalkan kekayaan pangan daerah, variasi menu dinilai penting agar anak-anak tidak bosan dengan makanan yang disajikan berulang kali.

"Menu-menu kreatif seperti ini kalau bisa menjadi menu SPPG. Gizinya ada, beragam, bergizi, seimbang dan aman. Anak-anak juga tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja," ujarnya.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Afni meminta penguatan kolaborasi lintas sektor. Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP), TP PKK, camat hingga penghulu diharapkan mengambil peran dalam membangun ekosistem pangan lokal dari produksi hingga pemasaran.

Afni juga membuka peluang keterlibatan TP PKK dalam Satgas MBG untuk membantu pengawasan pelaksanaan program, sehingga kualitas makanan bergizi dan pemanfaatan produk lokal dapat berjalan beriringan.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Siak, Siti Sarifah, mengatakan Festival Pangan Lokal merupakan bagian dari upaya membangun kebiasaan konsumsi makanan B2SA yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Siti berharap masyarakat semakin terbiasa memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh, sederhana dalam pengolahan, tetapi memiliki kandungan gizi yang baik.

Festival tersebut diikuti TP PKK dari 14 kecamatan dengan menampilkan berbagai inovasi olahan berbasis potensi daerah. Di antaranya Ikan Nila Khusus Tualang, Sambal Nanas Manis, Ubi Mesik Kukus, Labu Bersantan Putri Indrapura, Patin Lancang Pelangi, Patin Gulung Telur, Rendang Jamur Tempe, Krim Buah Cimplukan, hingga Patin Sutra Saus Kencana.

Selain lomba cipta menu B2SA, kegiatan tersebut juga menghadirkan lomba stan pameran produk olahan pangan lokal tingkat Kabupaten Siak.

Bagi Afni, festival ini diharapkan menjadi lebih dari sekadar ajang unjuk kreativitas. Ada harapan agar hasil kebun petani, tangkapan nelayan, dan olahan tangan masyarakat Siak memiliki tempat di pasar yang lebih luas. Sebab, ketika pangan lokal terserap, manfaatnya bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menghidupkan ekonomi keluarga. (infotorial)