Waspada Blind Spot, PT Pelindo Regional 1 Tembilahan Prioritaskan Keselamatan Kerja di Area Pelabuhan

Kamis, 09 April 2026 | 08:25:54 WIB

TEMBILAHAN – Keselamatan kerja menjadi prioritas utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 1 Tembilahan dalam setiap aktivitas operasional di pelabuhan. General Manager PT Pelindo Regional 1 Tembilahan, Riky Armadi, menegaskan bahwa risiko kecelakaan kerja, terutama yang disebabkan oleh blind spot atau area tidak terlihat oleh operator alat berat dan kendaraan, harus diantisipasi secara serius. “Blind spot adalah area yang tidak dapat terlihat oleh operator. Tanpa disadari, berada di zona ini dapat meningkatkan potensi bahaya yang fatal bagi pekerja,” ujar Riky Armadi, Selasa (9/4/2025).

Menurut Riky, area pelabuhan memiliki dinamika tinggi dengan mobilitas alat berat seperti crane, forklift, dan truuk kontainer yang terus beroperasi. Keterbatasan pandangan operator menjadi tantangan utama, sehingga setiap pekerja wajib memahami lokasi-lokasi rawan blind spot. “Kami tidak bisa hanya mengandalkan kewaspadaan operator. Pekerja di lapangan juga harus proaktif menghindari zona bahaya dengan selalu berjalan di jalur aman yang telah ditentukan,” tegasnya. PT Pelindo Regional 1 Tembilahan secara rutin memetakan area blind spot dan memasang rambu peringatan di titik-titik kritis.

Lebih lanjut, Riky Armadi menjelaskan bahwa menjaga jarak aman dari alat berat yang sedang beroperasi adalah kebiasaan yang harus dibudayakan. “Jarak minimal lima meter dari kendaraan besar bukan sekadar angka, tetapi batas yang menyelamatkan nyawa. Kami sering melihat pekerja yang terlalu dekat karena terburu-buru, padahal operator tidak mungkin melihat mereka dari kabin,” katanya. PT Pelindo telah menetapkan prosedur tetap (protap) yang mewajibkan setiap pekerja untuk tidak berada di sisi kiri dan kanan belakang alat berat saat mesin menyala.

Dalam rangka menekan angka kecelakaan, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap sesuai standar keselamatan juga menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar. Riky menyebutkan bahwa helm, rompi reflektif, sepatu safety, dan alat pelindung lainnya terbukti mengurangi tingkat keparahan cedera jika terjadi insiden. “APD adalah benteng terakhir. Jangan pernah menganggap remeh rompi reflektif, karena rompi itu membuat operator lebih mudah melihat keberadaan pekerja, terutama di area blind spot,” tambahnya. PT Pelindo secara berkala mengadakan razia APD dan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar.

Tidak hanya aspek fisik, kewaspadaan situasional atau situational awareness juga menjadi fokus pelatihan rutin yang digelar PT Pelindo Regional 1 Tembilahan. Pekerja didorong untuk selalu memperhatikan lingkungan sekitar, termasuk pergerakan kendaraan, suara mundur alat berat, dan kondisi pencahayaan. “Kami melatih pekerja untuk tidak hanya fokus pada tugasnya sendiri, tetapi juga memprediksi pergerakan alat berat di sekitarnya. Ini soal disiplin mental,” jelas Riky. Pelatihan simulasi blind spot menggunakan alat peraga sering dilakukan agar pemahaman pekerja lebih konkret.

Riky Armadi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan lama pekerja yang cenderung meremehkan bahaya. Oleh karena itu, PT Pelindo menggiatkan program safety briefing sebelum shift kerja dimulai, di mana topik blind spot selalu menjadi salah satu poin utama. “Kami tidak pernah bosan mengingatkan. Setiap pagi, sebelum operasi dimulai, kami ulangi lagi: kenali blind spot, jaga jarak, dan selalu gunakan APD. Karena kecelakaan tidak pernah memberi peringatan,” ucapnya dengan tegas. Program ini melibatkan seluruh level pekerja, dari operator hingga tenaga bongkar muat.

Dengan peningkatan kesadaran dan disiplin dalam menerapkan prosedur K3, PT Pelindo Regional 1 Tembilahan menargetkan zero accident pada tahun 2025. Riky optimistis target tersebut dapat tercapai jika semua pihak berkomitmen menjadikan keselamatan sebagai budaya kerja, bukan sekadar aturan. “Lingkungan kerja yang aman dan nyaman adalah hak setiap pekerja. Kami tidak ingin ada keluarga yang kehilangan pencari nafkah karena kecelakaan yang sebenarnya bisa dicegah. Stay safe, stay aware – itu moto kami,” pungkasnya. PT Pelindo juga terus berkoordinasi dengan mitra usaha dan perusahaan jasa bongkar muat untuk menyamakan standar keselamatan.

Sebagai penutup, General Manager PT Pelindo Regional 1 Tembilahan mengimbau seluruh pekerja untuk tidak ragu melaporkan potensi bahaya atau hampir celaka (near miss) yang mereka temui. “Jangan biarkan blind spot membunuh kewaspadaan kita. Mari kita ciptakan pelabuhan yang tidak hanya produktif, tetapi juga selamat untuk semua,” ajak Riky Armadi. Dengan langkah-langkah konkret dan pengawasan berkelanjutan, PT Pelindo berkomitmen menjadikan keselamatan kerja sebagai prioritas utama yang tidak bisa dikompromikan.

Terkini