BPPSDMP dan BRMP Sukseskan Gerakan Tanam Serentak Nasional, Dorong Petani Milenial Lewat Brigade Pangan di Inhil

Jumat, 01 Mei 2026 | 15:03:31 WIB

Indragiri Hilir – Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia, bersinergi dengan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BRMP) dan unit terkait, melaksanakan Gerakan Tanam Serempak (Gertam) secara nasional pada Kamis, 30 April 2026. Kegiatan strategis ini menargetkan penanaman seluas 50.000 hektar di 25 provinsi se-Indonesia, dengan salah satu titik pelaksanaannya berlokasi di Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Acara yang dilaksanakan secara hybrid melalui konferensi video ini menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Kegiatan di lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Indragiri Hilir dihadiri langsung oleh sejumlah pejabat kunci, termasuk Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indragiri Hilir, H. Umar, S.Pt., dan Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang, Dr. Ir. Ajat Jatnika, M.Sc. selaku penanggung jawab Satgas Brigade Pangan Provinsi Riau. Turut hadir pula Kapoksi BPRM Riau Taufik Hidayat, S.P., M.Si., Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Surohman, S.ST., Camat Keritang Wono Sugito, Danramil 09/Kemuning, Lurah Kotabaru, serta para penyuluh pertanian dan anggota Satgas Swasembada Pangan. Kehadiran para pejabat ini menunjukkan seriusnya dukungan institusi terhadap program percepatan tanam.

Dr. Ir. Ajat Jatnika, M.Sc., menyampaikan  bahwa gerakan tanam serempak ini merupakan upaya kolosal dari 25 provinsi untuk mencapai target nasional 50.000 hektar tanaman padi. Ia menekankan bahwa Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Indragiri Hilir, menjadi bagian penting dalam rantai keberhasilan program ini. Fokus utama penanaman kali ini adalah pada lahan Oplah dan CSR yang dikelola oleh Brigade Pangan, sebuah inovasi kelembagaan yang digagas oleh Kementerian Pertanian untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur atau kurang produktif menjadi lahan pertanian yang menghasilkan.

Inovasi Brigade Pangan (BP) menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini, di mana BPPSDMP mendorong keterlibatan generasi muda atau petani milenial untuk mengelola usaha tani secara modern. Melalui pendekatan manajemen yang efektif, penggunaan teknologi pertanian terkini, serta analisis usaha tani yang akuntabel, Brigade Pangan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Di Indragiri Hilir, tim BP Squad Milenial berhasil mengelola lahan seluas 205 hektar, menunjukkan kapasitas tinggi dari pemuda desa dalam mengadopsi profesi petani profesional yang menjanjikan.

Kapoksi BPRM Riau, Taufik Hidayat, S.P., M.Si., melaporkan bahwa khusus di wilayah Kecamatan Keritang, target penanaman tahap ketiga ini mencapai 43 hektar dengan menggunakan varietas unggul lokal "Bujang Keritang". Secara keseluruhan, enam kabupaten di wilayah kerjanya telah menyelesaikan penanaman seluas 323,5 hektar. Penggunaan varietas lokal ini dipilih karena adaptasinya yang baik terhadap kondisi tanah di Indragiri Hilir, sehingga diharapkan dapat memberikan hasil panen yang optimal dan mendukung keberlanjutan benih lokal di masyarakat.

Meskipun beberapa daerah lain telah menerapkan teknologi mekanisasi penuh seperti Rice Transplanter atau drone untuk penyebaran benih, di lokasi Kotabaru kali ini metode tanam pindah (transplanting) masih diterapkan karena kesiapan bibit yang telah disemaikan sebelumnya. Namun, Dr. Ajat Jatnika menegaskan bahwa transisi menuju mekanisasi modern tetap menjadi tujuan jangka panjang Brigade Pangan. Hal ini sejalan dengan visi BRMP dan BPPSDMP untuk mencetak petani yang tidak hanya mengandalkan tenaga manual, tetapi juga mahir mengoperasikan alat mesin pertanian (alsintan) untuk efisiensi waktu dan biaya.

Dari sisi ekonomi, analisis usaha tani yang disajikan menunjukkan potensi pendapatan yang menarik bagi anggota Brigade Pangan. Dengan target produktivitas minimal 5 ton gabah kering panen per hektar dan harga jual Rp6.500 per kilogram, seorang anggota BP yang terdiri dari 15 orang dapat memperoleh pendapatan kotor hingga Rp53 juta per bulan jika dikelola secara optimal. Sistem bagi hasil dengan pemilik lahan, umumnya dengan porsi 70% untuk pengelola BP dan 30% untuk pemilik lahan setelah dikurangi biaya, menjadikan profesi ini semakin prospektif dan mampu melebihi target pendapatan minimum regional.

Sebagai penutup, Dr. Ajat Jatnika menyampaikan harapan agar generasi muda di Brigade Pangan terus belajar dan berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan pemilik lahan. Dengan pendampingan intensif dari BPPSDMP berupa bantuan sarana produksi dan alsintan, serta jaminan harga dan pasar, para petani milenial ini diharapkan dapat menjadi pelopor swasembada pangan berkelanjutan. Semangat "pantang pulang sebelum tanam" yang digaungkan menjadi simbol dedikasi tinggi untuk mewujudkan lumbung pangan nasional yang tangguh dan mandiri di masa depan.

Terkini