Bagi Darim Juanda, Nuroni, Bambang Edi Nurudin, dan Sarip Mujianto, undangan untuk hadir langsung di Istana Merdeka pada 17 Agustus mendatang menjadi pengalaman yang nyaris tak pernah mereka bayangkan. Keempatnya datang dari latar belakang yang jauh dari hiruk-pikuk pemerintahan.
Ada petani yang puluhan tahun menggantungkan hidup dari sawah, ada pula buruh yang menghabiskan sebagian besar masa kerjanya di lingkungan pabrik. Kesempatan tersebut diberikan Presiden Prabowo Subianto kepada warga dari berbagai profesi sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan. Bagi mereka, undangan itu bukan sekadar selembar surat, tetapi juga bentuk penghargaan atas profesi dan pengabdian yang selama ini mereka jalani.
Darim Juanda sudah 14 tahun menjalani profesi sebagai petani di Karawang. Ketika menerima surat undangan untuk mengikuti upacara kemerdekaan di Istana Negara, ia mengaku terharu sekaligus tidak menyangka.
“Perasaan saya begitu mendapat surat undangan dari Bapak Presiden Prabowo untuk mengikuti upacara kemerdekaan Republik Indonesia sangat terharu. Bahkan, saya tidak menyangka sekali bahwa saya akan mendapat undangan di hari kemerdekaan di istana negara,” ujar Darim.
Sebagai petani, ia berharap perhatian terhadap sektor pertanian terus meningkat sehingga kehidupan para petani di Indonesia semakin baik. Darim juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo karena telah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk hadir sebagai salah satu perwakilan petani dari Kabupaten Karawang.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo yang telah mengundang kami sebagai wakil para petani di seluruh Indonesia khususnya di Kabupaten Karawang. Indonesia Merdeka! Merdeka! Merdeka!” ucapnya.
Cerita serupa datang dari Nuroni, 57 tahun, petani asal Karawang yang telah lebih dari 30 tahun menggeluti dunia pertanian. Undangan tersebut membuatnya terkejut. Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kesempatan untuk menghadiri acara kenegaraan secara langsung di Istana.
“Pertama ya, saya mendapat undangan itu kaget, karena nggak nyangka lah seumur hidup saya ini dapat undangan dari Presiden. Yang keduanya saya bangga, karena mungkin saya terpilih di antara para petani,” kata Nuroni.
Kebahagiaan serupa dirasakan Bambang Edi Nurudin, buruh di kawasan Jakarta Timur, yang telah bekerja selama lebih dari 23 tahun. Mendapat undangan dari Presiden Prabowo untuk menghadiri upacara di Istana membuat Bambang merasa sangat senang. Ia bahkan mengibaratkan pengalaman tersebut seperti mendapatkan hadiah.
“Alhamdulillah banget ini, senang nih. Kayak dapat doorprize saja ini,” ujarnya.
Bambang berharap kesempatan serupa dapat diberikan kepada lebih banyak pekerja dari berbagai daerah di Indonesia. Bagi Bambang, undangan tersebut menjadi sebuah momen istimewa yang tentu akan ia ceritakan kepada keluarga.
“Ke istri dong, istri-anak kan, mungkin ini, mungkin sekali-kalinya mungkin seumur hidup ini, nantinya nggak bakal dapat undangan lagi, mungkin yang lain, mungkin ini sebuah momen yang, sebuah kebanggaan lah buat kami, khususnya buat kami pribadi, baru sekali ini dapat undangan,” ucapnya.
Rasa terkejut dan haru juga dirasakan Sarip Mujianto, buruh yang telah bekerja sejak 2010. Menurutnya, undangan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap kelompok pekerja yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
“Terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Pak Prabowo Subianto yang sudah perhatian kepada kaum buruh,” ungkapnya.
Seperti Bambang, orang pertama yang ingin diberi tahu Sarip mengenai pengalaman tersebut adalah keluarganya. Terlebih, orang tuanya berada di kampung dan menurutnya undangan tersebut juga menjadi kebanggaan bagi keluarga.
“Yang pertama pastinya keluarga, orang tua yang sudah, kebetulan keluarga orang tua juga di kampung, ini kebanggaan buat mereka, dan ini kebanggaan buat istri, dan ini pertama, saya ada undangan di Istana Negara, semenjak Presiden Prabowo terpilih,” tuturnya.