Perjalanan Panjang Anak Petani Dari Keritang Menuju Paskibraka Nasional 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 19:56:55 WIB
Arifa Rahma Maulydha


Logo 

PEKANBARU - Setiap capaian besar selalu memiliki cerita tentang perjuangan yang panjang. Bagi Arifa Rahma Maulydha, langkah menuju Paskibraka Nasional 2026 bermula dari sebuah keluarga sederhana di Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir.

Arifa tumbuh bersama kedua orang tuanya Sulaiman dan Uswaroh, yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Tak ada yang menyangka, kini dia menjadi putri terbaik Riau yang telah usai menjalankan tugas sebagai Paskibraka Nasional.

Kembalinya Arifa ke Riau menjadi momen yang begitu emosional. Setelah menjalani pemusatan pendidikan dan pelatihan di tingkat nasional, ia akhirnya dapat bertemu dengan orang tua yang selama ini menjadi sumber kekuatan di balik setiap langkahnya.

"Saya sangat bahagia bisa pulang ke Riau, karena waktu pemusatan diklat di sana kami udah nggak bisa megang HP. Pokoknya kami gak ada berkontak sama sekali dengan orang tua. Alhamdulillah sekarang sudah selesai dan bisa kembali bersama keluarga," ujar Arifa di VIP Lancang Kuning Pekanbaru, Sabtu (22/08/2026).

Bagi Arifa, keberhasilan tersebut terasa semakin istimewa karena ia datang dari keluarga petani. Tidak ada kemewahan, modal utamanya yaitu doa, keberanian, kedisiplinan dan dukungan kedua orang tua yang terus menguatkan langkahnya sejak awal.

"Sebelum mengenakan seragam Paskibraka Nasional, saya ini seorang anak petani dari Keritang (Indragiri Hilir). Ketika pendaftaran Paskibraka dibuka, saya memberanikan diri untuk mendaftar," katanya.

Keberanian untuk mencoba itulah yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya. Pendaftaran yang awalnya mungkin terlihat seperti sebuah kesempatan biasa, perlahan menjadi jalan panjang yang membawanya melewati berbagai tahapan seleksi hingga akhirnya berdiri sebagai wakil Riau di tingkat nasional.

"Awalnya diterima tingkat kabupaten, kemudian berlanjut dipercayai mewakili Inhil ke tingkat Provinsi Riau. Disinilah fase latihan mulai dari pagi hingga sore saya terapkan, Alhamdulillah ternyata berlanjut sampai Nasional," tutur Arifa.

Latihan dari pagi hingga sore menjadi bagian dari keseharian Arifa. Di tengah padatnya aktivitas tersebut, ia harus menjaga kondisi fisik sekaligus membangun mental agar mampu melewati setiap tahapan seleksi dengan baik.

Perjalanan menuju tingkat nasional pun tidak berlangsung mudah. Arifa harus bersaing bersama putra-putri terbaik lainnya yang datang dari berbagai daerah di Riau. Masing-masing membawa kemampuan dan impian yang sama untuk mengenakan seragam Paskibraka Nasional.

"Saat seleksi kemarin modal saya doa, mental, dan fisik yang sudah terlatih selama ini. Pada tahap nasional, kami itu ada 6 putra-putri terbaik Riau berkumpul dengan impian yang sama. Tapi yang terpilih hanya satu putra dan satu putri untuk lanjut menjadi Paskibraka Nasional," jelasnya.

Di balik setiap proses seleksi, tersimpan perasaan campur aduk. Ada rasa gugup, lelah, khawatir dan berharap yang datang silih berganti. Namun, Arifa selalu menemukan alasan untuk kembali berdiri setiap kali rasa lelah mulai menghampiri.

Kerinduan kepada keluarga menjadi salah satu hal yang paling dirasakan Arifa selama menjalani proses pendidikan dan pelatihan. Jarak dan keterbatasan komunikasi membuat sosok Sulaiman dan Uswaroh justru semakin kuat hadir dalam pikirannya.

"Kalau ditanya perasaan ketika jalani berbagai seleksi tentunya campur aduk. Cuman setiap lelah karena latihan, bayangan senyum orang tua menjadi penyemangat untuk terus bertahan. Bapak dan Ibu di rumah jadi kunci saya semakin bangkit," ungkapnya.

Diterangkan, kedua orang tua menjadi bagian penting dari kisah keberhasilannya. Doa dan dukungan mereka menjadi energi yang terus dibawa Arifa sepanjang perjalanan.

Ketika akhirnya dinyatakan lolos sebagai Paskibraka Nasional, kebahagiaan itu tidak mampu dibendung. Air mata yang jatuh bukan sekadar karena berhasil melewati seleksi tetapi juga karena terbayarnya seluruh perjuangan, doa dan pengorbanan yang telah dilalui bersama keluarga.

"Amanah yang sudah diberikan kepada saya ini tentu menjadi kebanggaan juga untuk daerah dan masyarakat Riau. Air mata saya tak pernah henti ketika dinyatakan lolos menjadi perwakilan Paskibraka Nasional," terangnya.

Bagi Arifa, seragam Paskibraka Nasional bukan sekadar pakaian yang dikenakan ketika menjalankan tugas negara. Seragam itu menjadi simbol perjalanan seorang anak petani dari Keritang yang berani bermimpi, berani mencoba dan akhirnya berhasil membawa nama daerahnya ke tingkat nasional.

Dari pengalaman tersebut, Arifa berpesan kepada generasi muda agar tidak pernah merasa rendah karena berasal dari keluarga sederhana. Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita selama seseorang memiliki kemauan, kerja keras dan keberanian untuk memulai.

"Oleh karena itu untuk kawan-kawan, ingat bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk menggapai mimpi setinggi langit. Teruslah berjuang, hormati orang tua, dan jangan pernah takut mencoba." pungkasnya.

Terkini