Aspek Utama Human Capital, Melalui Parenting Membangun Generasi Emas

Aspek Utama Human Capital,  Melalui Parenting Membangun Generasi Emas

Nara Sumber: Dr. H. Agus Maulana, SE., MM.
Tembilahan, 22 Jan 2026


                                        Abstrak
Pembangunan Human Capital sejak usia dini merupakan fondasi strategis dalam menciptakan Generasi Emas Indonesia 2045. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi memerlukan keterlibatan aktif orang tua sebagai agen utama pembentuk karakter, kecerdasan emosional, dan kognitif anak. Artikel ini disusun sebagai bahan sosialisasi melalui metode ceramah kepada wali murid di PAUD Nur Hikmah, Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, dengan tujuan meningkatkan pemahaman orang tua tentang peran krusial parenting dalam membangun aspek-aspek utama human capital. Melalui pendekatan berbasis ilmiah dan nilai-nilai lokal Melayu, sosialisasi menekankan pentingnya stimulasi kognitif, pengembangan karakter, regulasi emosi, serta kolaborasi sekolah-orang tua. Cerita inspiratif “Gelas Kosong” yang berasal dari dipopulerkan di Indonesia 2013 digunakan sebagai metafora untuk mengajak wali murid membuka hati, melepaskan prasangka, dan siap belajar menjadi pendidik pertama yang rendah hati dan responsif.

Hasil yang diharapkan adalah terbentuknya sinergi berkelanjutan antara keluarga dan lembaga PAUD dalam mencetak generasi yang unggul, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Kata Kunci: human capital, parenting, PAUD, Generasi Emas, Gelas Kosong.

                                      Pendahuluan

Di era globalisasi dan revolusi industri 4.0, pembangunan sumber daya manusia (human capital) menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang unggul, kompetitif, dan berakhlak mulia. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan fondasi krusial dalam membentuk karakter, kecerdasan emosional, dan kognitif anak sejak dini.

Di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan budaya yang semakin kompleks, peran orang tua sebagai agen pertama dan utama dalam pendidikan anak tidak dapat digantikan oleh institusi manapun termasuk sekolah.

PAUD Nur Hikmah di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, menyadari betapa pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan keluarga dalam membangun human capital sejak usia dini. Oleh karena itu, melalui pendekatan parenting yang berbasis ilmiah dan nilai-nilai lokal, PAUD ini berkomitmen untuk menyiapkan “Generasi Emas” Indonesia yang siap menghadapi masa depan.

Pembangunan sebuah bangsa tidak lagi hanya diukur dari kekayaan sumber daya alam, melainkan dari kualitas manusia yang dimilikinya. Konsep Human Capital atau Modal Manusia menekankan bahwa investasi pada manusia—khususnya pada masa usia dini memiliki tingkat pengembalian (rate of return) paling tinggi dibandingkan investasi pada tahap kehidupan lainnya.

PAUD NUR HIKMAH yang berlokasi di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, memegang peran strategis dalam meletakkan fondasi bagi "Generasi Emas 2045". Namun, sekolah tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi melalui program Parenting adalah kunci utama untuk memastikan stimulasi yang diterima anak di sekolah berlanjut secara konsisten di rumah.

Literatur Studi

1. Human Capital dan Pentingnya Investasi Sejak Dini
Human capital merujuk pada kumpulan pengetahuan, keterampilan, kesehatan, dan nilai-nilai yang dimiliki individu, yang secara kolektif meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup (Becker, 1964; Schultz, 1961). Investasi pada usia dini—terutama 0–6 tahun—merupakan periode paling kritis dalam pembentukan otak dan kepribadian (Heckman, 2006; Shonkoff & Phillips, 2000).
Penelitian Heckman (2006) menunjukkan bahwa setiap 1 dolar yang diinvestasikan pada pendidikan usia dini memberikan return hingga 13% per tahun sepanjang hidup individu tersebut, baik dalam bentuk pendapatan, kesehatan mental, maupun kontribusi sosial. Hal ini menegaskan bahwa parenting bukan hanya soal kasih sayang, tetapi juga investasi strategis jangka panjang. Pesan untuk Wali Murid:
Mendidik anak di rumah bukan hanya tugas, tapi investasi terbaik bagi masa depan keluarga dan bangsa.
2. Peran Orang Tua dalam Membentuk Human Capital Anak
Orang tua adalah “arsitek pertama” dalam pembentukan human capital. Beberapa aspek utama yang dapat dikembangkan melalui parenting meliputi:
  a. Stimulasi Kognitif dan Bahasa
Interaksi verbal, membaca buku, dan bermain edukatif di rumah secara signifikan meningkatkan perkembangan kognitif anak (Hart & Risley, 1995; Weisleder & Fernald, 2013). Di PAUD Nur Hikmah, kami mendorong orang tua untuk membiasakan membaca dongeng, bernyanyi, dan berdialog dengan anak setiap hari.
  b. Pengembangan Karakter dan Nilai Moral
Pendidikan karakter dimulai dari rumah. Nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan disiplin lebih efektif ditumbuhkan melalui keteladanan (modeling) daripada nasihat belaka (Lickona, 1991; Berkowitz & Bier, 2005). Di lingkungan Melayu Riau yang kental dengan nilai adat dan agama, PAUD Nur Hikmah mengintegrasikan nilai-nilai lokal seperti sopan santun, malu, dan gotong royong dalam kurikulum dan interaksi harian.
  c. Regulasi Emosi dan Kecerdasan Sosial
Kemampuan mengelola emosi dan berinteraksi sosial adalah prediktor kuat kesuksesan di masa dewasa (Durlak et al., 2011). Orang tua yang responsif terhadap emosi anak misalnya dengan memvalidasi perasaan untuk membantu anak mengembangkan emotional intelligence (Gottman et al., 1997).
  d. Gizi dan Kesehatan
Otak anak berkembang pesat pada 1.000 hari pertama kehidupan. Asupan gizi yang cukup, tidur yang teratur, dan stimulasi fisik sangat menentukan kapasitas belajar (Grantham-McGregor et al., 2007). Kami mendorong wali murid untuk memastikan anak sarapan sehat, tidur cukup, dan aktif bergerak.
3. Kolaborasi Sekolah-Orang Tua: Model Kemitraan Efektif
PAUD Nur Hikmah menerapkan model family-school partnership yang didukung oleh riset internasional (Epstein, 2011; Hoover-Dempsey & Sandler, 1997). Beberapa strategi yang kami lakukan:
Workshop Parenting Bulanan: Mengundang psikolog, guru, dan tokoh masyarakat untuk berbagi ilmu.

Komunikasi Harian: Melalui buku penghubung atau grup WhatsApp, guru dan orang tua saling berkoordinasi tentang perkembangan anak.

Kegiatan Bersama: Seperti “Hari Ayah di Sekolah” atau “Ibu Mengajar di Kelas”, yang memperkuat ikatan emosional dan rasa memiliki.

Studi menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak meningkatkan motivasi belajar, prestasi akademik, dan kesejahteraan psikologis (Jeynes, 2012; Fan & Chen, 2001).

                                         Pembahasan

1. Human Capital di Masa Usia Dini
Dalam perspektif ekonomi dan pendidikan, modal manusia mencakup kesehatan, keterampilan, pengetahuan, dan karakter. Masa Golden Age (0-6 tahun) adalah periode di mana plastisitas otak berada pada titik maksimal. Investasi pada PAUD NUR HIKMAH bukan sekadar pengajaran calistung, melainkan pembentukan:
Keterampilan Kognitif: Daya nalar dan pemecahan masalah.
Keterampilan Non-Kognitif: Karakter, disiplin, empati, dan kegigihan (grit).

2. Peran Strategis Parenting (Pola Asuh)
Keluarga adalah madrasah pertama. Di Tembilahan, yang memiliki karakteristik budaya melayu yang kental, keterlibatan orang tua dalam pendidikan formal anak menjadi determinan utama keberhasilan. Parenting yang efektif di PAUD NUR HIKMAH mencakup:
Supportive Parenting: Memberikan dukungan emosional yang stabil.
Home Learning Environment: Menciptakan suasana rumah yang kaya akan literasi dan stimulasi edukatif.
Nutrisi dan Kesehatan: Memastikan asupan gizi untuk mencegah stunting, yang merupakan ancaman utama pengembangan human capital di daerah.

3. Implementasi di PAUD NUR HIKMAH Tembilahan
Melalui program-program seperti kelas orang tua, pertemuan rutin konsultasi perkembangan anak, dan pelibatan ayah (fatherhood) dalam pengasuhan, PAUD NUR HIKMAH berupaya menyelaraskan kurikulum sekolah dengan pola asuh di rumah. Hal ini bertujuan agar anak-anak di Tembilahan memiliki daya saing global namun tetap memegang teguh nilai-nilai religius dan lokal.

4. Tantangan dan Harapan
Tantangan seperti rendahnya literasi orang tua atau kesibukan ekonomi harus diatasi dengan edukasi yang berkelanjutan. Dengan memposisikan anak sebagai aset "Human Capital" yang tak ternilai, masyarakat Tembilahan melalui PAUD NUR HIKMAH sedang menanam benih untuk masa depan Riau yang lebih gemilang.

Artikel ini disusun sebagai bahan ceramah kepada wali murid PAUD Nur Hikmah, dengan tujuan memberikan pemahaman mendalam tentang aspek-aspek utama human capital yang dapat dikembangkan melalui praktik parenting yang efektif dan berkelanjutan.

5. Tantangan dan Solusi di Konteks Lokal Tembilahan
Di daerah pedesaan seperti Tembilahan, tantangan seperti keterbatasan akses informasi, beban ekonomi, dan rendahnya tingkat pendidikan orang tua masih menjadi hambatan. Namun, solusi tidak harus mahal:

Parenting Berbasis Komunitas: Ibu-ibu bisa saling berbagi pengalaman dalam kelompok arisan atau pengajian.
Pemanfaatan Media Sederhana: Mendongeng menggunakan boneka kain, bermain dengan alam (daun, pasir, air), atau memasak bersama semua bisa jadi media belajar.

Kolaborasi dengan Tokoh Agama: Ustaz/ustazah dapat menyampaikan nilai parenting dalam khutbah atau pengajian.

                                        Kesimpulan

Metafora: "gelas kosong" diambil dari sebuah kisah klasik Zen tentang seorang profesor yang datang menemui seorang guru bijak. Sang profesor terus berbicara tanpa henti tentang teori dan pengetahuannya. Sang guru kemudian menuangkan teh ke dalam cangkir sang profesor hingga tumpah. Ketika ditanya mengapa, sang guru menjawab:"Seperti cangkir ini, pikiranmu penuh dengan pendapat dan prasangka. Bagaimana aku bisa menuangkan kebijaksanaan jika cangkirmu tidak kosong?"
Dalam konteks buku Gelas Kosong, Kang Yudi mengembangkan metafora ini melalui kisah seorang pemuda yang sedang kehilangan arah hidup. Melalui perjumpaannya dengan seorang "penjual es keliling" yang ternyata seorang mentor bijak, sang pemuda diajak merenung, melepaskan beban masa lalu, membuka hati, dan belajar dengan rendah hati.

Beberapa Nilai Inti yang Disampaikan: Kerendahan Hati dalam Belajar, Tanpa kerendahan hati, ilmu tidak akan masuk sekeras apa pun manusia berusaha. Melepaskan Masa Lalu. Luka, kegagalan, atau kesombongan masa lalu harus "dikosongkan" agar ruang baru terbuka untuk pertumbuhan.

Kesadaran Diri (Self-Awareness), Memahami siapa diri manusia, apa yang manusia percaya, dan mengapa bertindak adalah langkah awal transformasi. Belajar dari Siapa Saja, Guru bisa datang dari mana saja bahkan dari seorang penjual es jika manusia mau membuka hati.

Hidup adalah Proses, Bukan Tujuan, Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang dimiliki, tapi sesuatu yang terus dipraktikkan setiap hari. "Gelas Kosong" bukan hanya buku tentang motivasi, tetapi undangan untuk hidup dengan kesadaran, kerendahan hati, dan keterbukaan. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh kebisingan, pesan sederhana ini justru menjadi sangat relevan: Kadang, yang manusia butuhkan bukan lebih banyak ilmu tapi ruang di dalam diri untuk menerimanya.

                                               Penutup

Menuju Generasi Emas 2045, Indonesia menargetkan “Generasi Emas” pada tahun 2045 saat usia emas kemerdekaan. Anak-anak yang saat ini belajar di PAUD Nur Hikmah akan menjadi pemimpin, inovator, dan pekerja produktif di masa itu. Generasi tidak hanya butuh pintar, tapi juga berakhlak, resilien, dan berjiwa Pancasila.

Mari manusia sadari: rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama. Dengan ilmu, kasih sayang, dan konsistensi, semua wali murid dan guru bisa bersama-sama membangun human capital yang kokoh sejak dini.

Rekomendasi
Pesan Paling Bermakna dari Parenting untuk belajar hal baru, manusia harus mau mengosongkan gelas melepaskan prasangka, ego, dan keyakinan lama yang menghambat. "Orang bijak bukan yang paling banyak tahu, tapi yang paling siap belajar. "Anak bukanlah bejana yang harus diisi, tetapi api yang harus dinyalakan." François Rabelais
Semoga Allah SWT meridhai upaya manusia dalam mendidik generasi penerus bangsa.

                                     Daftar Pustaka
Almond, D., & Currie, J. (2011). Human Capital Development before Age Five. Handbook of Labor Economics, 4, 1315-1486.

Baker, A. J., Piotrkowski, C. S., & Brooks-Gunn, J. (1998). The Home Instruction Program for Preschool Youngsters (HIPPY). Early Childhood Research Quarterly, 13(1), 161-188.
Berkowitz, M. W., & Bier, M. C. (2005).

What Works in Character Education: A Research-Driven Guide for Educators. Character Education Partnership.

Bronfenbrenner, U. (1979). The Ecology of Human Development. Harvard University Press.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Harvard University Press.

Bowlby, J. (1982). Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. Basic Books.
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.

Barnett, W. S. (2011). Effectiveness of Early Childhood Education. Science, 333(6045), 975-978.

Belsky, J. (1984). The Determinants of Parenting: A Process Model. Child Development, 55(1), 83-96.

Brooks-Gunn, J., & Markman, L. B. (2005). The Contribution of Parenting to Ethnic and Racial Gaps in School Readiness. The Future of Children, 15(1), 139-168.

Becker, G. S. (1964). Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education. University of Chicago Press.

Cunha, F., & Heckman, J. J. (2007). The Technology of Skill Formation. American Economic Review, 97(2), 31-47.

Cunha, F., Heckman, J. J., & Schennach, S. M. (2010). Estimating the Technology of Cognitive and Noncognitive Skill Formation. Econometrica, 78(3), 883-931.
Currie, J. (2001). Early Childhood Education Programs. Journal of Economic Perspectives, 15(2), 213–238.

Duncan, G. J., et al. (2007). School Readiness and Later Achievement. Developmental Psychology, 43(6), 1428–1446.

Denham, S. A. (2006). Social-Emotional Competence as Support for School Readiness: What Is It and How Do We Assess It? Early Education and Development, 17(1), 57–89.

Desforges, C., & Abouchaar, A. (2003). The Impact of Parental Involvement, Parental Support and Family Education on Pupil Achievements and Adjustment. Department for Education and Skills Research Report, 433.

Engle, P. L., et al. (2011). Strategies for Reducing Inequalities and Improving Developmental Outcomes for Young Children in Low-income and Middle-income Countries. The Lancet, 378(9799), 1339-1353.

Fantuzzo, J., Tighe, E., & Childs, S. (2000). Family Involvement Questionnaire: A Multivariate Assessment of Family Participation in Early Childhood Education. Journal of Educational Psychology, 92(2), 367-376.

Gertler, P., et al. (2014). Labor Market Returns to an Early Childhood Stimulation Intervention in Jamaica. Science, 344(6187), 998-1001.

Grolnick, W. S., & Slowiaczek, M. L. (1994). Parents' Involvement in Children's Schooling: A Multidimensional Conceptualization and Motivation Model. Child Development, 65(1), 237-252.

Heckman, J. J. (2006). Skill Formation and the Economics of Investing in Disadvantaged Children. Science, 312(5782), 1900-1902.

Heckman, J. J., & Mosso, S. (2014). The Economics of Human Development and Social Mobility. Annual Review of Economics, 6(1), 689-733.

Hunstman, L. (2008). Determinants of Quality in Child Care: A Review of the Research Literature. Centre for Parenting and Research.

Hart, B., & Risley, T. R. (1995). Meaningful Differences in the Everyday Experience of Young American Children. Paul H Brookes Publishing.

Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Bantam Books.

Durlak, J. A., Weissberg, R. P., Dymnicki, A. B., Taylor, R. D., & Schellinger, K. B. (2011). The Impact of Enhancing Students’ Social and Emotional Learning: A Meta-Analysis of School-Based Universal Interventions. Child Development, 82(1), 405–432.
Epstein, J. L. (2011). School, Family, and Community Partnerships: Preparing Educators and Improving Schools. Westview Press.

Fan, X., & Chen, M. (2001). Parental Involvement and Students’ Academic Achievement: A Meta-Analysis. Educational Psychology Review, 13(1), 1–22.

Gottman, J. M., Katz, L. F., & Hooven, C. (1997). Meta-Emotion: How Families Communicate Emotionally. Lawrence Erlbaum Associates.

Grantham-McGregor, S., et al. (2007). Developmental Potential in the First 5 Years for Children in Developing Countries. The Lancet, 369(9555), 60–70.
Hoover-Dempsey, K. V., & Sandler, H. M. (1997). Why Do Parents Become Involved in Their Children’s Education? Review of Educational Research, 67(1), 3–42.

Jeynes, W. H. (2012). A Meta-Analysis of the Efficacy of Different Types of Parental Involvement Programs for Urban Students. Urban Education, 47(4), 706–742.

Knudsen, E. I., et al. (2006). Economic, Neurobiological, and Behavioral Perspectives on Building America’s Future Workforce. PNAS, 103(27), 10155–10162.

Knudsen, E. I., Heckman, J. J., Cameron, J. L., & Shonkoff, J. P. (2006). Economic, Neurobiological, and Behavioral Perspectives on Generic Development. Proceedings of the National Academy of Sciences, 103(27), 10155-10162.

Lareau, A. (2002). Invisible Inequality: Social Class and Childrearing in Black Families and White Families. American Sociological Review, 67(5), 747-776.
Masten, A. S., & Cicchetti, D. (2010).

Developmental Cascades. Development and Psychopathology, 22(3), 491-495.
McClelland, M. M., et al. (2007). Links between Behavioral Regulation and Preschoolers' Literacy, Vocabulary, and Math Skills. Developmental Psychology, 43(4), 947-959.

Magnuson, K. A., & Waldfogel, J. (2005). Early Childhood Care and Education: Effects on Ethnic and Racial Gaps in School Readiness. Future of Children, 15(1), 169–196.

National Scientific Council on the Developing Child. (2007). The Science of Early Childhood Development. Center on the Developing Child, Harvard University.
OECD (2017). Starting Strong V: Transitions from Early Childhood Education and Care to Primary Education. OECD Publishing.

Pears, K. C., et al. (2015). Enhancing School Readiness for Children in Foster Care: 5-Year Outcomes of a Self-Regulation Intervention. Child Development, 86(3), 659-671.
Reynolds, A. J., et al. (2011).

School-Based Early Childhood Education and Age-28 Well-Being: Effects by Timing, Dosage, and Subgroups. Science, 333(6040), 360-364.

Schweinhart, L. J., et al. (2005). Lifetime Effects: The HighScope Perry Preschool Study Through Age 40. HighScope Press.
Schultz, T. W. (1961). Investment in Human Capital. American Economic Review, 51(1), 1–17.

Shonkoff, J. P., & Phillips, D. A. (2000). From Neurons to Neighborhoods: The Science of Early Childhood Development. National Academies Press.

Sylva, K., et al. (2004). The Effective Provision of Pre-School Education (EPPE) Project: Final Report. DFES.

Tamis-LeMonda, C. S., et al. (2001). Early Maternal Language Use During Book Sharing and Its Relation to Children’s Vocabulary Development. Journal of Early Intervention, 24(2), 106–121.

Todd, P. E., & Wolpin, K. I. (2007). The Production of Cognitive Achievement: It Takes a Village, or Does It? Journal of Labor Economics, 25(3), 445-480.
UNESCO (2016). Investing in Early Childhood Care and Education. Global Education Monitoring Report Policy Paper.

Votruba-Drzal, E. (2003). Income Investments in Early Childhood: Relations to Self-Regulatory Capacities and Behavioral Health. Child Development, 74(4), 1159-1174.

Waldfogel, J. (2006). What Children Need. Harvard University Press.

Yoshikawa, H., et al. (2013). Investing in Our Future: The Evidence Base on Preschool Education. Society for Research in Child Development.
Yoshikawa, H., et al. (2013). Investing in Our Future: The Evidence Base on Preschool Education. Society for Research in Child Development.

Yudi Hadisiswanto, (2013), Gelas Kosong, Gramedia Pustaka Utama
Raver, C. C. (2002). Emotions Matter: Making the Case for the Role of Young Children’s Emotional Development for Early School Readiness. SRCD Social Policy Report, 16(3).

Weisleder, A., & Fernald, A. (2013). Talking to Children Matters: Early Language Experience Strengthens Processing and Builds Vocabulary. Psychological Science, 24(11), 2143–2152.
World Bank. (2018). World Development Report 2018: Learning to Realize Education’s Promise. World Bank Publications.

Ikuti Seribuparitnews.com di GoogleNews

Berita Lainnya

Index