Melawan Bara di Tanah Gambut: Kisah Manggala Agni yang Tak Kenal Lelah

Melawan Bara di Tanah Gambut: Kisah Manggala Agni yang Tak Kenal Lelah
Petugas Manggala Agni memadamkan kebakaran lahan di Rupat, Bengkalis, Riau

Bengkalis- Di bentangan tanah gambut Riau yang legam, matahari tak hanya sekadar terbit, namun sengatan sinarnya mampu membakar. Seperti di Desa Sukarjo Mesim, Kecamatan Rupat, aroma sangit merayap di antara batang-batang kayu yang meranggas. Di sinilah, sekitar 50 hektar Hutan Produksi Terbatas (HPT) di Bengkalis sempat menjadi palagan antara keberanian manusia dan keganasan bara api yang bersembunyi di bawah permukaan tanah.

Lahan gambut adalah musuh yang penuh tipu daya. Saat api di permukaan tampak sudah mati, sejatinya ia hanya pindah tidur ke dalam perut bumi. Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera, memahami betul tabiat ini. Bagi timnya, memadamkan api hanyalah separuh jalan, memastikan api tak bangkit lagi adalah pertarungan yang sebenarnya.

"Tim masih melakukan proses pendinginan guna mencegah potensi api muncul kembali. Mengingat potensi asap masih tinggi, kami melakukan mopping up atau penuntasan sisa-sisa api secara menyeluruh," ujar Ferdian dengan nada bicara yang sarat akan kewaspadaan, Kamis (5/3/2026).

Di tangannya, nasib ribuan napas warga bergantung pada ketuntasan pemadaman sisa bara. Sekitar 200 kilometer dari sana, di Desa Gambut Mutiara, Pelalawan, pemandangan tak jauh beda. Area seluas 68,3 hektar hangus menghitam.

Di lokasi ini, Manggala Agni bahu-membahu bersama TNI-Polri, BPBD, Satpol PP Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pihak PT Sumatra Riang Lestari, melakukan pemadaman. Menyiram, menusuk tanah, dan memastikan tak ada uap panas yang tersisa. Ini bukan sekadar kerja teknis, melainkan ikhtiar menjaga agar langit Riau tetap biru.

Ferdian menegaskan bahwa ketuntasan adalah harga mati, terutama di tanah Bengkalis yang rawan. Baginya, satu percikan yang terlewat adalah kegagalan yang bisa berujung petaka bagi wilayah sekitar.

"Karena ini adalah kebakaran lahan gambut, kami akan tuntaskan sampai tidak ada potensi sekecil apa pun untuk meluas atau menyala lagi," tegasnya. 

Namun, perjuangan ini tak hanya terjadi saat api membara. Sejak Januari hingga Maret 2026, para ksatria pemadam ini telah menjajaki 80 desa di penjuru Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kepri, dan Sumatera Selatan untuk melakukan patroli dan deteksi dini. Patroli ini, menurut Ferdian, adalah jembatan hati antara pemerintah dan warga.

"Patroli ini bukan sekadar pengamanan teritori, tetapi juga sarana pendekatan sosial agar masyarakat semakin paham bahaya Karhutla," imbuhnya.

Di atas langit, teknologi pun turut "memanggil" hujan. Melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digawangi BNPB, awan-awan di atas Pelalawan, Bengkalis, dan Dumai dipaksa meluruhkan airnya. Doa-doa untuk hujan senada dengan instruksi BMKG yang menyebut tingkat kekeringan bahan bakar di permukaan tanah (Fine Fuel Moisture Code) masih berada pada level merah yang mengkhawatirkan.

Kini, meski titik api mulai melandai, para penjaga hutan ini belum benar-benar pulang. Di tengah ancaman cuaca yang kian kering, mereka tetap bersiaga di garis depan, bertaruh tenaga di atas tanah yang masih hangat. Mereka sadar, di tanah gambut, kedamaian adalah sesuatu yang harus dijaga setiap detik agar jelaga tak kembali menyelimuti mimpi anak-anak Riau.

Ikuti Seribuparitnews.com di GoogleNews

Berita Lainnya

Index