Kapolda Riau Terima Anugerah JMSI: Polisi Kini Penjaga Peradaban dan Ekologi

Kapolda Riau Terima Anugerah JMSI: Polisi Kini Penjaga Peradaban dan Ekologi

Pekanbaru – Ruang kerja Kapolda Riau, Selasa 23 Juni 2026 siang, terasa berbeda. Bukan agenda razia atau operasi, tapi silaturahmi penuh apresiasi. Rombongan pengurus Jaringan Media Siber Indonesia JMSI Riau datang membawa kabar baik: Irjen Pol. Dr. H. Herry Heryawan, S.I.K., M.H., M.Hum ditetapkan sebagai salah satu penerima JMSI Riau Award 2026. Anugerah itu akan diserahkan pada malam puncak HUT JMSI ke-6, Kamis 25 Juni 2026.

Audiensi berlangsung hangat di Mapolda Riau. Tujuan utama JMSI Riau menyampaikan langsung bahwa Kapolda Riau dinilai punya kiprah luar biasa untuk Riau dan masyarakatnya. Salah satu alasannya adalah program Green Policing yang digulirkan, program yang terbukti membantu memperbaiki lingkungan dan menekan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan Karhutla yang tiap tahun menghantui Bumi Lancang Kuning.

Ketua Tim Juri JMSI Riau Award 2026 Assoc Professor Syafriadi menjelaskan alasan penjurian. “Kami memutuskan tahun ini Bapak Kapolda menjadi salah satu penerima JMSI Riau Award Tahun 2026, karena kami menilai kiprah dan sepak terjang Pak Kapolda untuk Riau dan masyarakat Riau sangat luar biasa. Ditambah dengan program Green Policing yang Bapak gulirkan, yang telah terbukti mampu memperbaiki lingkungan dan mengatasi bencana Karhutla di Riau ini,” katanya.

Kapolda Riau menerima Green Legacy Award. Penghargaan ini diberikan kepada tokoh yang melalui gagasan, kepeloporan, dan tindakan nyata telah menumbuhkan kesadaran ekologis, memperkuat pelestarian lingkungan, serta meletakkan fondasi pembangunan berkelanjutan untuk generasi mendatang. “Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi dan komitmen dalam membangun warisan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan peradaban,” ujar Syafriadi.

Menurut Syafriadi, penghargaan ini berangkat dari pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukan hanya urusan hari ini. Ini adalah amanah untuk anak cucu. Keberhasilan tidak diukur dari program sesaat, tapi dari kemampuan membangun kesadaran kolektif, mendorong partisipasi warga, dan menanamkan nilai pelestarian sebagai budaya yang berkelanjutan.

Bagi JMSI Riau, penghargaan ini juga pengakuan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Pers, pemerintah, aparat, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat punya peran yang sama. Tidak ada yang bisa berjalan sendiri jika ingin Riau hijau untuk masa depan.

Menanggapi anugerah itu, Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan menyatakan menerima dengan senang hati. “Saya menerima Anugerah Award JMSI Riau ini dengan senang hati. Meski saya sebenarnya lebih suka bekerja nyata untuk masyarakat Riau, untuk lingkungan di Riau dan tidak berharap dapat penghargaan,” ucapnya tulus.

Kapolda memaparkan 3 fokus Green Policing. Pertama, preemtif dan preventif untuk mencegah Karhutla sebagai ancaman ekologis utama Riau. “Kita sudah tanam lebih dari 200 ribu pohon di Riau dalam program ini,” jelasnya. Kedua, penegakan hukum dan rehabilitasi: menindak tegas pencemaran sungai dan perburuan satwa liar, diiringi reboisasi. “Era saya penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan memang kita giatkan. Sudah ada 70 tersangka yang kita tetapkan karena melakukan kejahatan lingkungan di Riau ini,” tegas Herry Heryawan.

Fokus ketiga adalah edukasi generasi muda. Kapolda bersama tim sedang menyiapkan komik untuk anak-anak berisi ajakan menyelamatkan lingkungan dengan gambar dan teks yang menarik. “Paradigma kepolisian masa kini menempatkan polisi sebagai penjaga keberlanjutan peradaban dan ekologi. Aparat tidak hanya penegak hukum, tetapi juga pelindung lingkungan hidup, hutan, dan ruang hidup masyarakat,” pungkasnya.

Usai pertemuan, Kapolda Riau menyerahkan bibit mangga kepada rombongan JMSI Riau yang terdiri dari Syafriadi, Fakhrunas MA Jabar, Luzi Diamanda, Efridel, Tun Akhyar, dan Hakim. Turut mendampingi Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, S.H., M.S dan para PJU Polda Riau. Bibit mangga itu jadi simbol: perbaikan lingkungan butuh kolaborasi banyak pihak, dari seragam Bhayangkara sampai pena jurnalis. (*)

Ikuti Seribuparitnews.com di GoogleNews

Berita Lainnya

Index