BPS Catat Inflasi Riau 4,55 Persen pada Juni 2026, Harga Emas hingga Cabai Merah Jadi Pemicu

BPS Catat Inflasi Riau 4,55 Persen pada Juni 2026, Harga Emas hingga Cabai Merah Jadi Pemicu

PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 4,55 persen pada Juni 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 113,28.

Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengatakan inflasi tersebut terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.

Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Kampar sebesar 4,90 persen dengan IHK 114,22, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Dumai sebesar 4,30 persen dengan IHK 113,33.

“Pada Juni 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 4,55 persen dengan IHK 113,28. Secara bulanan atau month to month, Riau juga mengalami inflasi sebesar 0,35 persen, sementara inflasi tahun kalender atau year to date mencapai 0,96 persen,” kata Asep Riyadi dalam rilis resmi BPS, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan tertinggi sebesar 10,77 persen, diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,22 persen, pendidikan 5,08 persen, transportasi 4,38 persen, kesehatan 3,51 persen.

Selanjutnya, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,08 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 2,14 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,07 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,99 persen.

Sementara itu, dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yakni kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,36 persen serta kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,03 persen.

"Sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, cabai merah, bensin, biaya akademi atau perguruan tinggi, minyak goreng, biaya pemeliharaan atau servis kendaraan, ikan patin, Sigaret Kretek Mesin (SKM), angkutan udara, ikan serai, daging ayam ras, nasi dengan lauk, ikan tongkol, cabai rawit," jelasnya.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain sabun deterjen, jengkol, kentang, masker, buncis, kelapa, sandal kulit wanita, gaun wanita, blus wanita, sepatu pria, sabun mandi cair, tarif kendaraan roda empat daring serta celana panjang jeans wanita.

"Dari sisi andil inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 2,31 persen," imbuhnya.

Selanjutnya kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,82 persen, transportasi 0,56 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,32 persen, pendidikan 0,23 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,14 persen, kesehatan 0,10 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,05 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,04 persen.

BPS menilai perkembangan harga berbagai komoditas pada Juni 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan, sehingga mendorong inflasi baik secara bulanan maupun tahunan di Provinsi Riau.

Ikuti Seribuparitnews.com di GoogleNews

Berita Lainnya

Index