Oleh: Rahma Welda
Mahasiswa Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana UNILAK
Dalam literatur manajemen keuangan klasik, kita sering diajarkan tentang konsep homo economicus—manusia sebagai makhluk rasional yang selalu mengambil keputusan untuk memaksimalkan keuntungan pribadi. Namun, selama berpuluh tahun, rasionalitas ini sering kali dibajak oleh bias gender. Narasi yang terbangun menempatkan laki-laki sebagai arsitek investasi yang agresif dan strategis, sementara perempuan diposisikan hanya sebagai manajer operasional rumah tangga yang konservatif. Hari ini, data empiris memaksa kita untuk merevisi asumsi tersebut. Kita sedang menyaksikan sebuah disrupsi fundamental di mana gaya manajemen keuangan perempuan terbukti bukan hanya "aman", tetapi juga lebih unggul secara performa.
Bukti paling tak terbantahkan datang dari lanskap domestik kita sendiri. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024 yang dirilis OJK dan BPS mencatat sejarah baru: untuk pertama kalinya, indeks literasi keuangan perempuan (66,75%) melampaui laki-laki (64,14%). Angka ini bukan sekadar fluktuasi statistik, melainkan indikator perubahan struktural. Di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi pascapandemi, perempuan—yang sering kali memegang kendali "kementerian keuangan" di level mikro (keluarga)—dipaksa beradaptasi lebih cepat. Tuntutan untuk mengelola sumber daya yang terbatas dengan kebutuhan yang kompleks telah menempa kompetensi manajerial mereka jauh lebih tajam. Hal ini berbeda dengan peran tradisional laki-laki yang umumnya lebih berfokus pada sisi pendapatan (income generating), sehingga acapkali memiliki jarak dengan detail efisiensi pengeluaran harian (spending efficiency).
Dari kacamata Behavioral Finance (Keuangan Perilaku), keunggulan perempuan dapat dijelaskan melalui perbedaan pendekatan psikologis terhadap risiko. Selama ini, perempuan sering disalahartikan sebagai risk-averse (takut risiko). Padahal, data menunjukkan mereka adalah risk-aware (sadar risiko).
Studi global dari Fidelity Investments (2024) menemukan bahwa dalam jangka panjang, portofolio investasi yang dikelola perempuan memiliki kinerja lebih baik daripada laki-laki. Mengapa? Jawabannya terletak pada fenomena "Bias Kepercayaan Diri Berlebih" (Overconfidence Bias) yang menurut berbagai studi perilaku lebih dominan ditemukan pada pola investasi laki-laki.
Investor laki-laki cenderung merasa mampu memprediksi pasar (timing the market), yang memicu aktivitas perdagangan berlebihan (over-trading). Dalam manajemen investasi, semakin sering Anda bertransaksi, semakin besar biaya yang menggerus margin keuntungan, dan semakin besar peluang kesalahan keputusan. Sebaliknya, perempuan cenderung menerapkan strategi buy and hold. Kesabaran ini—yang dalam bahasa manajemen disebut sebagai strategic resilience—membiarkan bunga majemuk (compound interest) bekerja maksimal.
Implikasi dari fenomena ini meluas jauh melampaui dompet pribadi. Laporan Boston Consulting Group (BCG) memproyeksikan bahwa perempuan kini menguasai sekitar 30% kekayaan global, dengan laju pertumbuhan aset yang lebih cepat daripada laki-laki. Ini mengubah peta permainan. Institusi keuangan, pengembang properti, hingga perencana kebijakan publik harus sadar bahwa decision maker utama ekonomi kini telah bergeser.
Fakta ini menegaskan bahwa memberdayakan akses modal bagi perempuan bukan lagi sekadar program kesetaraan gender semata, melainkan strategi ekonomi yang paling logis.
Perempuan terbukti memiliki Non-Performing Loan (NPL) atau tingkat kredit macet yang lebih rendah dalam berbagai skema pembiayaan. Artinya, modal yang dikelola dengan gaya perempuan memiliki keamanan dan keberlanjutan yang lebih terjamin.
Pada akhirnya, temuan data ini bukan sekadar tentang kompetisi antar-gender, melainkan sebuah pelajaran berharga tentang prinsip manajemen aset yang sehat. Gaya pengelolaan keuangan perempuan yang mengutamakan transparansi, disiplin, dan kehati-hatian (prudence) sejatinya adalah manifestasi murni dari prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Sudah saatnya kita berhenti memandang gaya keuangan yang "berhati-hati" sebagai sebuah kelemahan. Di era volatilitas ekonomi global yang tinggi seperti sekarang, justru pendekatan yang tenang, berbasis data, dan berorientasi jangka panjang—khas perempuan—lah yang menjadi kunci ketahanan ekonomi. Narasi ini harus diubah: kemampuan perempuan mengelola keuangan bukan lagi sekadar bantuan untuk ekonomi keluarga, melainkan blueprint (cetak biru) bagi strategi investasi yang cerdas dan berkelanjutan bagi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.