Batang Tuaka - Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Indragiri Hilir membawa dampak serius bagi petani padi. Di Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, kondisi lahan yang kering memicu ledakan populasi hama orong-orong atau yang dikenal masyarakat sebagai anjing tanah. Hama ini menyerang perakaran tanaman padi, menyebabkan pertumbuhan terhambat hingga puso di sejumlah petak sawah.
Menghadapi ancaman tersebut, petani tidak tinggal diam. Bersama penyuluh pertanian setempat, mereka mencari cara pengendalian yang efektif namun tetap terjangkau. Pasalnya, harga insektisida kimia yang relatif mahal menjadi beban tambahan di tengah kondisi ekonomi petani yang sedang tertekan akibat cuaca ekstrem.
Dari diskusi dan pengalaman lapangan, lahirlah sebuah inovasi sederhana: pembuatan insektisida alternatif berbahan dasar campuran air, garam dapur, tembakau, dan obat nyamuk bakar. Bahan-bahan ini mudah didapat di sekitar desa dan dinilai lebih ekonomis dibandingkan produk pabrikan yang ada di pasaran.
Proses pembuatannya pun tergolong mudah. Tembakau direndam dan dicampur dengan air serta garam, kemudian ditambahkan serpihan obat nyamuk bakar. Campuran ini lalu diaplikasikan pada lubang-lubang orong-orong di area persawahan. Kandungan nikotin dan zat aktif lainnya diharapkan mampu mengusir sekaligus menekan populasi hama tersebut.
Menurut Indra Rahmana S Pt selaku Penyuluh Pertanian bahwa upaya ini merupakan bentuk kemandirian petani dalam menghadapi persoalan di lapangan. “Kami mencoba memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kami. Harapannya, ramuan ini bisa membantu petani mencegah serangan orong-orong tanpa harus mengeluarkan biaya besar,” ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Hoyong Bahagia, Jufri, menambahkan bahwa kolaborasi antara petani dan penyuluh pertanian menjadi kunci dalam menghadapi tantangan musim kemarau. Selain membuat ramuan insektisida, petani juga didorong untuk lebih rutin memantau kondisi sawah dan melakukan pengendalian secara serempak.
Langkah ini tidak hanya bertujuan menekan serangan hama, tetapi juga meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri petani dalam mengelola lahan mereka sendiri. Dengan pendekatan gotong royong dan inovasi lokal, petani Kuala Sebatu berharap dapat menjaga produktivitas padi meski di tengah kondisi iklim yang tidak bersahabat.
Ke depan, petani berharap ada dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, baik dalam bentuk pendampingan teknis maupun penelitian lebih lanjut terkait efektivitas ramuan tersebut. Semangat dan kreativitas petani Kuala Sebatu menjadi bukti bahwa dari keterbatasan, selalu ada jalan untuk bertahan dan bangkit.