Bangkit dari Gagal Tanam, Sinergi Polsek Enok dan Warga Cerminkan Dinamika Perjuangan Ketahanan Pangan di Simpang Tiga Darat

Bangkit dari Gagal Tanam, Sinergi Polsek Enok dan Warga Cerminkan Dinamika Perjuangan Ketahanan Pangan di Simpang Tiga Darat

ENOK — Upaya mewujudkan kedaulatan pangan nasional tidak pernah luput dari dinamika dan tantangan nyata di lapangan. Hal ini tecermin jelas dalam agenda penanaman jagung perdana Kwartal II untuk program hortikultura Asta Cita di Parit Jambi, Dusun Mekar Sari, Desa Simpang Tiga Darat, Kecamatan Enok, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada Rabu (20/5/2026). Di bawah komando Kapolsek Enok, IPTU Parsaulian Simanjuntak, S.H., M.H., kegiatan ini menjadi potret nyata bagaimana aparat penegak hukum dan masyarakat bahu-membahu merespons pasang surut iklim pertanian demi menjaga kestabilan ketersediaan pangan lokal.

Dinamika ketahanan pangan di wilayah ini terasa kian kompleks lantaran penanaman di atas lahan seluas satu hektar tersebut merupakan komitmen penanaman tahap kedua. Sebelumnya, ikhtiar yang dimulai pada Maret 2026 lalu terpaksa menemui jalan buntu setelah bibit jagung tahap pertama gagal tumbuh total akibat serangan hama tikus, musang, hingga siput. Kegagalan tersebut tidak membuat semangat surut, melainkan menjadi titik balik evaluasi bagi Polsek Enok, Pemerintah Desa Simpang Tiga Darat, serta kelompok tani setempat untuk memperkuat strategi proteksi tanaman yang lebih adaptif.

Kapolsek Enok, IPTU Parsaulian Simanjuntak, menjelaskan bahwa fluktuasi dan risiko kegagalan adalah bagian dari tantangan sektor pertanian yang harus dihadapi dengan pendampingan yang konsisten. Kehadiran Polri di lapangan bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk intervensi aktif untuk mengoptimalkan potensi tanah lokal serta memberikan rasa aman bagi para petani agar terus berproduksi. Kapolsek menegaskan, melalui komunikasi yang intensif, kepolisian berkomitmen mengawal setiap fase dinamika ini agar kestabilan pasokan pangan di tingkat hilir tetap terjaga dan berujung pada kesejahteraan masyarakat.

Senada dengan Kapolsek, Kepala Desa Simpang Tiga Darat, Krisna Futra, memaparkan bahwa keberhasilan mitigasi pangan di tingkat desa sangat bergantung pada ketangguhan (resilience) para petani dan kuatnya sinergitas antarlembaga. Kegagalan akibat serangan hama di bulan Maret menjadi pelajaran berharga bahwa swasembada memerlukan intervensi teknologi dan pengawasan bersama. Krisna mengapresiasi langkah cepat Polsek Enok yang bersedia turun langsung ke parit-parit sawah, memberikan dorongan moral yang sangat dibutuhkan warga untuk kembali mengolah tanah setelah sempat merugi.

Tantangan di lapangan pun kembali teruji saat proses penanaman yang dimulai pukul 11.00 WIB tersebut mendadak diguyur hujan lebat. Cuaca yang berubah dinamis ini sempat memperlambat pergerakan tim di area penanaman, sehingga proses penampungan dan penancapan benih diperkirakan baru rampung sepenuhnya pada sore hari. Kendati demikian, situasi tersebut justru memperlihatkan soliditas yang tinggi di mana jajaran Polsek Enok, Babinsa Pelda Boy Sitompul, pengurus BPD, LPM, hingga perangkat RT/RW tetap melanjutkan pengerjaan di bawah guyuran hujan.

Kondisi sosiologis masyarakat yang dinamis juga menjadi perhatian utama dalam program ketahanan pangan ini. Polsek Enok memanfaatkan momen ini sebagai sarana edukasi dan pembangunan kepercayaan publik (public trust), mengubah stigma kepolisian yang kaku menjadi mitra dialogis yang humanis. Dengan menggerakkan kesadaran warga secara sukarela, program Asta Cita ini bertransformasi dari sekadar instruksi top-down menjadi sebuah gerakan organik yang dimiliki dan diperjuangkan bersama oleh komunitas lokal di Parit Jambi.

Melalui penanaman Kwartal II yang penuh dinamika ini, target baru telah dipatok dengan estimasi masa panen raya yang diproyeksikan jatuh pada akhir Agustus 2026 mendatang. Pengawasan berkala terhadap fluktuasi hama dan pasokan air akan diperketat oleh Bhabinkamtibmas dan penyuluh pertanian guna memastikan siklus tanam kali ini berjalan mulus. Sinergitas lintas sektoral ini diharapkan mampu meminimalkan risiko kedaruratan pangan di masa depan dan menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Kecamatan Enok.

Secara keseluruhan, kegiatan yang berlangsung dengan aman dan kondusif ini memberikan pesan kuat bahwa ketahanan pangan adalah proses yang adaptif dan terus bergerak. Keberhasilan swasembada tidak diukur dari ketiadaan masalah, melainkan dari seberapa cepat semua elemen bangsa bangkit dari kegagalan demi mengamankan kedaulatan pangan wilayah. Polsek Enok dan warga Desa Simpang Tiga Darat kini menatap Agustus dengan optimisme baru, siap memanen buah dari konsistensi dan kerja keras mereka.

Ikuti Seribuparitnews.com di GoogleNews

Berita Lainnya

Index