Enok - Di tengah gencarnya isu ketahanan pangan nasional, kehadiran aparatur kepolisian di wilayah pedesaan kini tidak hanya identik dengan patroli keamanan, tetapi juga merambah ke sektor pertanian. Polsek Enok mengambil inisiatif strategis dengan menurunkan personelnya secara langsung untuk mendampingi warga binaan dalam mengelola tanaman pekarangan. Langkah ini menunjukkan pergeseran paradigma polisi menjadi mitra aktif masyarakat dalam menjamin ketersediaan pangan dari tingkat paling dasar, yaitu rumah tangga Sabtu (30/05)
BRIPKA Heru Susanto terlihat sibuk menyusuri lahan-lahan kecil di sepanjang Jalan Negara Parit Tahtul Yaman, RT 003/001, Desa Suhada, Kecamatan Enok. Fokus utamanya adalah memantau kondisi tanaman komoditas sehari-hari seperti cabe rawit, kacang panjang, serai, dan lengkuas. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB ini bukan sekadar formalitas inspeksi, melainkan upaya nyata untuk memahami kendala teknis yang dihadapi para petani skala mikro di wilayah binaannya.
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa antusiasme menanam belum sepenuhnya diimbangi dengan pengetahuan perawatan yang memadai. Hasil observasi BRIPKA Heru Susanto mengungkap fakta bahwa banyak tanaman pekarangan milik warga di Kelurahan Enok berada dalam kondisi kurang optimal. Serangan hama menjadi masalah dominan yang ditemukan, yang mengindikasikan bahwa pemeliharaan tanaman selama ini belum dilakukan secara intensif dan sesuai standar agronomi sederhana.
Temuan mengenai kondisi tanaman yang "belum terpelihara dengan baik" ini menjadi sinyal penting bagi semua pihak. Hal ini menegaskan bahwa sekadar menyediakan bibit atau lahan saja tidak cukup untuk mencapai swasembada pangan. Diperlukan transfer pengetahuan dan pendampingan berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya bisa menanam, tetapi juga mampu mempertahankan produktivitas tanaman mereka hingga masa panen tiba tanpa gagal akibat serangan organisme pengganggu tanaman.
Menyadari hal tersebut, personel Polsek Enok tidak hanya bertindak sebagai pengawas, tetapi juga sebagai edukator lapangan. BRIPKA Heru Susanto memberikan himbauan praktis kepada para warga tentang pentingnya rutinitas perawatan. Ia menekankan tiga pilar utama keberhasilan berkebun di pekarangan, yaitu pemupukan yang tepat waktu, pengairan yang teratur, serta pengendalian hama yang sigap sebelum menyebar luas dan merusak seluruh hasil panen.
Dorongan untuk memanfaatkan lahan secara optimal juga menjadi poin kunci dalam interaksi antara polisi dan warga. Personel Polsek Enok mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan tanah kosong di sekitar rumah terbengkalai. Dengan mengubah setiap jengkal tanah yang ada menjadi lahan produktif, diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi pertanian skala rumah tangga yang pada akhirnya akan berkontribusi signifikan terhadap stok pangan keluarga maupun wilayah setempat.
Kehadiran Polri di tengah-tengah aktivitas pertanian warga menciptakan sinergi positif yang melampaui tugas tradisional menjaga kamtibmas. Kapolsek Enok, IPTU Parsaulian Simanjuntak SH MH, menegaskan bahwa keterlibatan anggota dalam sektor pertanian adalah bentuk dukungan konkret terhadap program pemerintah. Sinergi ini membangun kepercayaan masyarakat bahwa polisi hadir untuk menyelesaikan masalah keseharian mereka, termasuk kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan mandiri.
Pada akhirnya, kegiatan pendampingan ini diharapkan menjadi model percontohan bagi wilayah lain dalam mendukung swasembada pangan nasional. Dengan kombinasi antara pengawasan rutin, edukasi perawatan tanaman, dan semangat gotong royong, target ketahanan pangan bukan lagi sekadar wacana kebijakan, melainkan realitas yang tumbuh dari pekarangan rumah warga. Peran aktif Polsek Enok membuktikan bahwa keamanan dan kesejahteraan pangan adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi dalam membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera.